UPDATE

NASIONAL

Kivlan Zen Bicara Strategi “Makan Bubur Panas” Prabowo, Ini Kata Pengamat Intelijen dan Geopolitik

Menurut Amir, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak diukur dari kerasnya retorika terhadap oligarki, melainkan sejauh mana negara mampu menciptakan kompetisi usaha yang sehat, memperkuat industri nasional, memperluas kesempatan bagi pelaku usaha kecil dan menengah, serta memastikan kepastian hukum bagi seluruh pelaku ekonomi.

Amir menilai masyarakat sering kali hanya melihat pergantian menteri atau pejabat sebagai indikator perubahan. Padahal, dalam perspektif intelijen negara, perubahan yang paling menentukan justru sering berlangsung di balik layar melalui penyusunan kebijakan, reformasi kelembagaan, hingga penataan sistem pengawasan.

“Operasi strategis tidak selalu terlihat di media. Yang lebih penting adalah apakah kebijakan negara benar-benar mengurangi ruang penyalahgunaan kekuasaan dan memperkuat kepentingan nasional,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pemerintahan pada akhirnya akan diukur melalui indikator yang dapat diverifikasi, seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, penurunan kemiskinan, penguatan industri nasional, pemberantasan korupsi, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Terkait pandangan Kivlan mengenai peran Danantara sebagai instrumen memperkuat kedaulatan ekonomi, Amir berpendapat bahwa setiap badan investasi negara memang memiliki potensi menjadi instrumen strategis apabila dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan lembaga semacam itu sangat bergantung pada tata kelola yang baik, pengawasan publik, dan kepastian hukum.

“Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu memastikan seluruh sumber daya nasional memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945,” ujarnya.

Dalam perspektif intelijen geopolitik, Amir melihat dinamika politik Indonesia saat ini berada pada fase konsolidasi pasca-transisi pemerintahan. Pada fase tersebut, pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan agenda reformasi.

Menurutnya, setiap kebijakan strategis akan menghadapi beragam kepentingan, baik dari birokrasi, pelaku usaha, masyarakat sipil, maupun aktor politik. Oleh karena itu, pendekatan bertahap kerap dipilih guna meminimalkan risiko gejolak.

Meski demikian, Amir menekankan bahwa analisis intelijen tidak boleh berubah menjadi kesimpulan tanpa bukti.

“Analisis intelijen adalah alat untuk membaca kemungkinan dan pola, bukan untuk menetapkan kebenaran. Karena itu, setiap dugaan tetap harus diuji melalui fakta, data yang dapat diverifikasi, serta mekanisme hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.