Bahkan, proses tersebut menurut Bambang tidak selalu berhenti pada satu kali konsultasi. Setelah mendapatkan masukan dan menyusun kerangka pidato, Soeharto kembali meminta pendapat mengenai outline yang telah dibuat.
“Kadang-kadang enggak hanya sekali kontak. Kalau dia sudah mulai merumuskan outline-nya, dia minta pendapat lagi outline-nya itu,” katanya.
Bambang kemudian mempertanyakan apakah mekanisme penyaringan informasi untuk Presiden Prabowo saat ini sudah berjalan dengan baik.
“Sekarang kalau melihat informasi yang masuk ke Presiden itu tidak seperti itu,” katanya.
Ia menduga terdapat persoalan pada proses penyaringan informasi yang diterima Presiden. Menurut Bambang, saringan informasi yang terlalu ketat justru berpotensi membuat Presiden hanya menerima informasi yang sangat terbatas.
“Kayaknya saringannya terlalu ketat sehingga yang masuk sedikit banget,” ujarnya.
Bambang mengatakan kondisi tersebut patut mendapat perhatian karena kualitas keputusan dan komunikasi seorang presiden sangat bergantung pada kualitas informasi yang diterimanya.
Ia menyebut setidaknya ada dua kemungkinan yang perlu dicermati ketika melihat sejumlah pidato atau pernyataan Presiden yang dinilai memuat data kurang tepat.
“Kalau lihat pidato-pidato yang ada sekarang kayaknya ada dua kemungkinan,” kata Bambang.
Pertama, menurut dia, bisa saja terdapat kelemahan dalam pengumpulan data sehingga informasi yang diterima Presiden memang tidak akurat.
“Satu, ini memang lemah dalam pengumpulan data sehingga sering datanya salah, salah, enggak akurat,” ujarnya.
Namun, Bambang menyebut ada kemungkinan lain yang menurutnya jauh lebih serius dan harus diwaspadai, meskipun ia menegaskan tidak berharap hal tersebut benar-benar terjadi.
“Yang lain, tapi mudah-mudahan ini jangan terjadi. Tapi perlu diwaspadai, perlu diantisipasi. Jangan-jangan ada orang di sekelilingnya yang mau menjerumuskan Presiden,” tegas Bambang.
Ia bahkan mempertanyakan kemungkinan adanya informasi yang sengaja diberikan secara keliru kepada Presiden sehingga pada akhirnya justru merusak citra Presiden sendiri.
“Jangan-jangan ada orang di sekelilingnya yang mau menjerumuskan Presiden. Sengaja feeding-nya salah, dijerumuskan supaya image-nya rusak,” katanya.
Bambang menegaskan bahwa dirinya tidak sedang menyimpulkan adanya pihak tertentu yang sengaja melakukan hal tersebut. Ia justru menyampaikan kemungkinan itu sebagai sebuah peringatan agar sistem informasi di sekitar Presiden diperkuat.
“Tapi ini mudah-mudahan jangan. Tapi kan kemungkinan, potensi ini harus kita baca, diantisipasi,” ujarnya.


















































































































