UPDATE

NASIONAL
NASIONAL

Duet Poros Alternatif Ini Disebut Bakal Menakutkan Bagi Prabowo Menuju Pilpres 2029

BANDA ACEH – Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting, mengungkap skenario poros alternatif yang dinilainya patut diperhitungkan Presiden Prabowo Subianto menjelang Pilpres 2029.Ginting memulai analisanya dengan menilai Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) tidak terburu-buru meninggalkan Partai Gerindra untuk bergabung dengan PSI.

Menurutnya, Dedi Mulyadi kemungkinan melihat posisinya akan lebih kuat jika tetap berada di partai yang dipimpin Prabowo. Dengan status sebagai kader Gerindra, Dedi juga dinilai lebih leluasa menjalin komunikasi dengan berbagai poros politik.

“Menurut saya KDM kemungkinan juga tidak terlalu terburu-buru untuk pindah dari Gerindra ke PSI karena secara strategi, posisi paling kuat justru kalau dia tetap sebagai kader Gerindra tetapi dia bisa membuka komunikasi dengan poros apa saja,” ujarnya dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (30/9).

“Termasuk dengan Poros Solo, poros Lebak Bulus-nya Anies Baswedan, poros Teuku Umar bisa dengan Pramono yang menjadi gubernur Jakarta gitu kan,” imbuhnya.

Ginting kemudian menyinggung dinamika politik di Jakarta yang menurutnya kerap menjadi gambaran pertarungan politik tingkat nasional.

Ia mengingatkan Pilkada DKI Jakarta 2017 ketika Prabowo memberikan dukungan kepada Anies Baswedan hingga berhasil memenangkan kontestasi. Sementara pada Pilkada Jakarta 2024, Pramono Anung justru keluar sebagai pemenang dengan mengalahkan kandidat yang didukung Prabowo.

“Nah ini kan menarik juga karena Pilkada rasa Pilpres kan adanya di Jakarta bukan di tempat lain. Bayangkan ketika Prabowo mengusung Anies Baswedan ini kan bertentangan dengan rezimnya Jokowi yang sedang berkuasa. Sama ini juga Pramono yang didukung oleh Anak Abah berhasil mengalahkan rezimnya Prabowo,” jelasnya.

Karena itu, Ginting menilai terbuka peluang munculnya sejumlah kombinasi pasangan calon menjelang Pilpres 2029.

“Sehingga sangat mungkin Pramono-KDM dipasangkan, Pramono-Anies dipasangkan tinggal mana yang lebih populer,” katanya.

Menurutnya, kemunculan poros-poros alternatif tersebut tentu akan menjadi bagian dari kalkulasi politik Prabowo. Sebab, gabungan figur dengan basis dukungan yang berbeda berpotensi menjadi kekuatan politik yang cukup diperhitungkan pada Pilpres 2029.

“Ini menakutkan juga bagi Prabowo begitu, ini pasti Prabowo menghitung peluang-peluang ini,” tandasnya.

image_print
Story Terbaru
Tidak dapat memuat data story terbaru.
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.