Polemik ijazah Jokowi sendiri telah menjadi persoalan hukum dan perdebatan publik. Berbagai klaim mengenai keaslian dokumen pendidikan mantan presiden tersebut masih menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat.
Edy juga mengaitkan polemik ijazah Jokowi dengan persoalan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya, persoalan yang menyangkut Gibran justru lebih terang dibandingkan polemik ijazah Jokowi yang dinilainya masih menyisakan banyak hal yang belum jelas.
“Pada kasus Gibran ini kan juga menurut saya lebih benderang ketimbang kasusnya Joko Widodo yang lebih samar-samar,” katanya.
Ia menyebut persoalan tersebut sebagai bagian dari dinamika politik yang berpotensi berujung pada proses konstitusional, terutama jika terdapat perkembangan hukum yang memengaruhi kedudukan Gibran sebagai wakil presiden.
Edy juga menyinggung Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 1 Tahun 2026 yang dalam perbincangan tersebut disebut sebagai pintu masuk untuk memulai kembali pembahasan persoalan Gibran.
“Saya sepakat dengan Bung Ahmad Yani bahwa PMK Nomor 1 Tahun 2026 itu pintu masuk. Pintu masuk untuk memulai lagi dan saya berhusnuzan sekaligus berharap ini akan menyelesaikan masalah Gibran yang kemudian nanti akan masuk ke pasal konstitusi kita,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa penyelesaian persoalan tersebut sangat bergantung pada perkembangan politik dan langkah-langkah konstitusional yang akan ditempuh.
Lebih jauh, Edy mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pengaruh Jokowi dalam dinamika politik nasional meskipun telah mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden.
Ia mempertanyakan apakah Prabowo benar-benar memainkan peran dalam dinamika tersebut atau justru membiarkan berbagai manuver politik berlangsung tanpa intervensi.
“Saya khawatir Prabowo enggak bermain apa-apa. Membiarkan saja permainan liar seperti itu,” ungkapnya.
Edy bahkan menduga bahwa kekuatan politik yang bermain tidak hanya berasal dari lingkaran Hambalang, yang merujuk pada basis politik Prabowo, tetapi juga dari lingkungan politik di Solo.
Menurutnya, Jokowi yang telah pensiun dari jabatan presiden masih dianggap memiliki jejaring dan pengaruh politik yang kuat.































































































Beri Komentar