UPDATE

NASIONAL

Model Diplomasi Bahlil Cederai Relasi RI-Singapura

Bagaimana tidak. Pada awal Juli (6 Juli 2026), telah diselenggarakan KTT, pertemuan tingkat tinggi berupa Leader’s Retreat, yang dipimpin oleh Kepala Negara/Kepala Pemerintahan RI Presiden Prabowo Subianto dan PM Lawrence Wong. Masing-masing didampingi delegasi anggota kabinet secara lengkap. 

Dalam.kesempatan penting  ini telah ditandatangani kesepakatan kerjasama strategis sebanyak 28 buah (18 antar pemerintah dan 8 antar pelaku bisnis), untuk mengisi hubungan diplomatik RI-Singapura semakin maju, semakin erat dan memasuki kedewasaan baru.

Namun belum juga lepas empat bulan ragam kerja sama termasuk pasokan perdagangan energi, lingkungan hidup, pendidikan, dan sebagainya ditandatangani Presiden Prabowo ini, Indonesia ternyata ironisnya justru mencederai kepercayaan dari kesepakatan yang ada untuk secara sepihak “merevisinya”, pasokan gas. Pengecualian dengan alasan yang sama sekali tidak dikomunikasikan dengan para pihak dalam kontrak.

Isu pengurangan pasokan gas ke Singapura belum berhenti di situ. Delegasi Indonesia yang telah terjadwal pun membatalkan kehadirannya dalam Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, yang berlangsungnya dari 26-30 Oktober 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapore. Sebuah forum internasional yang bagi Indonesia justru relevan di tengah gejolak politik dan disrupsi rantai pasok energi. 

Relasi diplomatik RI-Singapura terus digoyang. Imbauan Wamenhaj agar perjalanan ibadah umrah tidak menggunakan bandara Singapura dan Kuala Lumpur sebagai pintu transit, membuat kita bertanya ada apa dengan Singapura dan Kuala Lumpur?

Kesalahan apa yang membuat kita harus menerima takdir secara geografis bertetangga serumpun, namun tiba-tiba secara politik, ada manuver untuk menjauhi Singapura dan Malaysia ini?

Bagi generasi Z dan generasi muda yang di tahun itu belum lahir, coba gali melalui internet dan ingat dua mantan Menlu Singapura terdahulu, yang begitu cinta sekaligus menghormati Indonesia.

Menteri Luar Negeri Singapura, Prof. S. Jayakumar (Menlu Singapura 1994-2004) dan George Yeo (Menlu 2004-2011), tidak perlu diragukan mereka secara konsisten meyakini bahwa Indonesia memiliki posisi strategis yang sangat vital bagi stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan tidak saja Singapura tapi kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Suara berisik (noise) untuk.mencari muka kepada Presiden Prabowo Subianto oleh segelintir amatir, penumpang gelap ini tidak akan mampu membelokkan persahabatan kedua negara.

Praktisi hukum terkemuka, Hotman Paris Hutapea menyatakan buntut pengurangan pasokan itu melayangkan peringatan keras kepada Pemerintah Indonesia dan BUMN terkait bahaya tersembunyi di balik kebijakan ini. 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.