0leh:PLE Priatna
MENTERI Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belakangan, 24 Oktober 2026 lalu, telah berhasil “menggunting dalam lipatan diplomatik” berupa pengurangan pasokan gas ke Singapura–di tengah kontrak yang sedang berjalan itu.
Sementara di sisi lain, Singapura juga menyadari dan mengetahui bahwa sekitar 54 persen hingga 59 persen (berdasarkan data terbaru semester I 2026/Oktober 2026) Indonesia masih mengimpor BBM, termasuk RON 90 (Pertalite)–pendulum kestabilan ekonomi-Politik di tanah air itu–justru dari Singapura.
Nilai impor Indonesia, BBM dari Singapura itu mencapai sekitar 9,5 miliar Dolar AS (setara Rp155-160 triliun). Angka dan volume impor signifikan dalam relasi hubungan diplomatik. Bagaimana bisa dalam konteks kontrak jangka panjang ke depan, Indonesia memberi peringatan keras.
Pesan dalam relasi diplomatik tidak lazim dan amat menakutkan–yaitu hanya akan memperpanjang kontrak ekspor energi dengan “negara tetangga yang kooperatif dan saling menghormati hubungan bilateral”.
Sebuah tafsir karet, interpretasi yang sulit dirumuskan dalam kerangka relasi diplomatik karena terlanjur bergeser amat personal sekaligus bisa jadi malah berbenturan dengan kepentingan nasional kita.
Kita seharusnya berani berkaca diri dan melakukan koreksi. Di tengah pasang surut isu penanganan karhutla, luapan rasa ketersinggungan di sana sini, di sebagian pejabat kita–apalagi menyangkut hantu baru status standalone MSCI di pasar saham ini–ikut menggelinding menjadi putaran isu yang menyulut ketegangan ke level hubungan diplomatik bagi kedua negara, yang seharusnya dengan kedewasaan yang ada tidak perlu terjadi.
Di situ tak kalah menariknya–di tengah kisruh kecil di medan laga media sosial–diam-diam tampil “penumpang gelap” ala mantan Mendag yang tiba-tiba sibuk selain berdebat dengan mantan Wamenlu Dino Patti Djalal, malah secara intens mengompori hantu MSCI, seolah temuan hebat, seperti kasus beli di balik hubungan RI-Singapura.
Tindakan Menteri Bahlil mengejutkan bagi kabinet PM Lawrence Wong di Singapura. Membaca situasi memanas guna mendinginkan suasana batin benturan ini–Singapura berinisiatif mengirim pejabat penting setingkat Menlu Vivian Balakrishna ke Jakarta berjumpa dengan Menlu RI. Selanjutnya Presiden RI Prabowo Subianto pun berkenan menerima Menlu Singapura di Hambalang.
Overdosis Plus Offside
Coba bayangkan tidakkah kita merasa malu karena bertindak overdosis dan offside, termasuk tindakan yang justru mempermalukan Presiden RI Prabowo Subianto?


















































































































