UPDATE

EDUKASI
EDUKASI

Surat Terbuka untuk Rektor UI

Dear Guru saya, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU yang juga kebanggaan kami, Pak Rektor Universitas Indonesia!

Izin kan saya menulis surat terbuka dan pertanyaan Ke Kampus Mana Kita Mengarahkan Kompas Moral UI?

Apakah benar Universitas Indonesia, rumah intelektual dengan semboyan Veritas, Probitas, Iustitia, membuka podium orientasi pascasarjana bagi sosok yang di ruang publik kerap dikenal membela politik kekerasan Israel dan menolak tuduhan genosida di Palestina?

Poster resmi kegiatan PSAU Pascasarjana UI 2025 yang beredar dan foto orasi di Balairung yang ramai di media sosial menunjukkan nama Prof. Peter Berkowitz tampil sebagai pemberi orasi.

Patut saya ingatkan, mungkin Pak Rektor juga mengetahui bahwa Peter Berkowitz adalah Senior Fellow di Hoover Institution, Stanford; pernah menjabat Director of Policy Planning di Departemen Luar Negeri AS (2019–2021) dan sekretaris Commission on Unalienable Rights.

Peter Berkowitz konsisten menulis kolom yang membela hak Israel untuk membela diri dan menolak tuduhan “genosida” terhadap Israel di Gaza, dengan argumen kunci: unsur niat pemusnahan dalam definisi hukum genosida tidak terpenuhi; penilaian HAM kerap “mengabaikan keharusan militer” dan mendistorsikan hukum humaniter.

Silakan akses website peterberkowitz.com dalam artikel nya dia menulis bahwa dirinya adalah “Zionis” dan “pembela genosida Israel”. Secara substansi, posisinya justru menyatakan tidak ada genosida dalam kerangka hukum internasional, itulah yang ia bela. silakan simak link ini: Baca Di Sini

Pertanyaan saya sederhana, Pak Rektor: ke arah mana kompas moral UI sedang diarahkan?

Apakah Kebebasan Akademik Dilepaskan dari Tanggung Jawab Etis?

Kampus adalah laboratorium kebebasan berpikir. Namun, kebebasan itu tidak pernah hampa nilai.

Konstitusi Republik Indonesia, yang di bagian Pembukaan menegaskan bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”, memberi pagar etis yang jelas.

Politik luar negeri kita yang bebas aktif juga konsisten menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Di saat bangsa ini menunjukkan empati yang nyata, dari doa di masjid hingga diplomasi di mimbar internasional, UI justru mempersilakan sosok yang di banyak tulisannya membingkai agresi sebagai “pembelaan diri” dan menolak kerangka genosida.

Itu bukan sekadar “kontroversi pembicara”; itu kontradiksi terhadap garis etis bangsa, dan ironisnya dilakukan di ruang akademik tertinggi di negeri ini.

Masalahnya bukan soal “boleh bicara atau tidak”, tetapi konteks dan konsekuensi.

image_print
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.