Bila UI ingin menghadirkan pandangan keras dan kontroversial tentang isu global, UI berkewajiban menghadirkan counter-voice yang setara pada panggung yang sama, memberi ruang narasi korban, dan menyisipkan kerangka hukum humaniter internasional secara jernih.
Apa yang terjadi justru menimbulkan kesan platforming tunggal yang mencederai rasa keadilan mahasiswa dan publik.
Argumen Keempat: Dampak pada Iklim Kampus dan Kredibilitas Akademik
Mahasiswa hari ini peka dan melek isu. Mereka mengikuti kabar Gaza dari gawai, menggalang donasi, dan menuntut kejelasan sikap moral. Ketika kampus seakan meremehkan sensitivitas itu, trust memudar. Lebih dari itu, kredibilitas akademik UI dipertaruhkan di mata mitra internasional yang menjunjung tinggi human rights due diligence.
Di banyak kampus dunia, komite etik menilai tidak hanya apa yang dikatakan, tetapi di panggung mana dan dalam konteks apa itu diberikan. UI butuh reputasi yang bukan saja unggul secara ilmiah, tetapi juga kokoh secara moral.
Jalan Keluar Terbaik dan Mendesak
Pertama, permintaan maaf terbuka dari Rektor UI.
Bukan untuk menutup diskusi, tetapi untuk mengakui bahwa pilihan undangan dalam momentum orientasi adalah error of judgment. Permintaan maaf adalah pengembalian kompas, bukan tanda kelemahan. Sertakan janji memperbaiki kurasi narasumber agar selaras dengan konstitusi, kebijakan negara, dan code of ethics UI.
Kedua, revisi pedoman kurasi pembicara. Susun kriteria yang eksplisit: (1) keselarasan nilai dengan mandat anti-penjajahan UUD 1945; (2) human rights risk assessment, apakah narasi pembicara berpotensi menormalkan kekerasan terhadap sipil; (3) kewajiban menghadirkan counter-speech setara jika tema menyentuh isu kemanusiaan akut.
Pedoman ini harus berlaku lebih ketat untuk momen kurikuler dan seremonial seperti orientasi.
Ketiga, forum penyeimbang yang bermartabat. UI perlu menggelar public teach-in mengenai hukum humaniter internasional, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan sejarah kolonialisme modern, dengan menghadirkan akademisi, jurnalis, dokter lapangan, dan penyintas.
Beri panggung narasi korban. Tunjukkan bahwa UI mengerti perbedaan antara platforming yang memberi legitimasi dan scholarly debate yang memberi pencerahan.
Keempat, komitmen nyata pada kemanusiaan. Bentuk konsorsium lintas fakultas untuk riset kebijakan kemanusiaan, kemitraan dengan lembaga bantuan, dan program beasiswa bagi mahasiswa dari wilayah konflik. Jadikan empati sebagai kebijakan, bukan sekadar poster.
Kelima, pernyataan sikap resmi UI. Tegaskan bahwa UI berdiri pada garis anti-penjajahan dan pembelaan hak asasi manusia, sesuai konstitusi dan garis kebijakan negara. Pernyataan ini penting agar publik tidak menafsirkan panggung orientasi sebagai perubahan haluan moral UI.
Menjaga Ketajaman Analogi: Kompas, Peta, dan Pelaut
Seorang pelaut boleh memiliki peta paling detail, tetapi tanpa kompas ia akan tersesat. UI punya peta keilmuan yang luas, teknologi, sains, filsafat, kebijakan publik, namun kompasnya adalah nilai kemanusiaan.
































































































Beri Komentar