Mengundang narasi yang menormalkan kekerasan negara tanpa keseimbangan korban sama seperti menukar kompas dengan jam pasir: sibuk menghitung waktu acara, lupa arah pelayaran.
Kita bisa berdebat tentang definisi hukum, tetapi nurani sederhana mengajarkan: penderitaan sipil tidak pernah pantas dijadikan “biaya samping” dari retorika keamanan.
Seruan Khusus untuk Rektor UI
Pak Rektor, Bapak memegang mandat bukan hanya administratif, tetapi moral. Keputusan memberi panggung dalam orientasi kepada figur yang menolak kerangka genosida dan membingkai perang sebagai sekadar “pembelaan diri”, di tengah luka kemanusiaan yang masih menganga, menyakiti rasa keadilan keluarga UI.
Itu tidak sejalan dengan amanat konstitusi tentang anti-penjajahan, dan bertentangan dengan semangat kebijakan pemerintah yang berpihak pada kemanusiaan Palestina.
Bapak perlu menyampaikan permintaan maaf publik, mengevaluasi proses kurasi, dan berkomitmen mendukung perjuangan anak manusia melawan penjajahan serta segala bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kembalikan Marwah Balairung Kami!
Balairung bukan aula kosong; ia adalah ruang simbolik tempat negara menitipkan akal budi.
Di tempat itu wisudawan bersumpah setia pada ilmu yang memuliakan martabat manusia.
Karena itu, kita berhak menuntut standar etik yang lebih tinggi daripada sekadar “kita undang semua agar adil.” Keadilan bukan menempatkan pelaku dan korban di kursi yang sama tanpa bingkai kemanusiaan; keadilan adalah keberanian memihak pada yang terluka sambil tetap membuka ruang ilmu yang jernih.
Saya, sebagai alumni Universitas Indonesia, menulis surat terbuka ini bukan untuk mempermalukan kampus, melainkan untuk menyelamatkan marwahnya.
UI harus lebih dari cerdas; UI harus adil. Dan keadilan, pada akhirnya, teruji bukan di ruang kuliah yang dingin, melainkan pada pilihan siapa yang kita beri panggung dan bagaimana kita membela yang tak bersuara.
Pak Rektor, mohon maafkan salah arah ini di hadapan publik, betulkan pedoman undangan pembicara, hadirkan forum penyeimbang yang berpihak pada korban, dan tegaskan dukungan UI pada perjuangan menentang penjajahan dan genosida.
Hanya dengan begitu kompas moral UI kembali menunjuk ke utara: Veritas, Probitas, Iustitia.
)*Alumni Universitas Indonesia Peduli Kemanusiaan dan Anti-Penjajahan dan Ketua BEM UI 2003-2004
































































































Beri Komentar