UPDATE

EDUKASI
EDUKASI

Surat Terbuka untuk Rektor UI

Orientasi mahasiswa baru adalah panggung nilai, bukan sekadar kuliah umum acak.

Di situlah UI seharusnya menancapkan pilar karakter: kemanusiaan, anti-penjajahan, dan keberpihakan pada korban.

Mengundang figur yang secara konsisten menormalisasi kekuasaan koersif Israel (betapapun canggih argumen legalnya) mengirimkan pesan keliru: bahwa UI bersedia mengaburkan batas etis demi sensasi intelektual.

Pintu Rumah dan Tamu yang Kita Pilih

Bayangkan UI sebagai rumah besar. Kita tidak melarang siapa pun berbicara di alun-alun kota; orang datang dan pergi, perdebatan terjadi.

Namun ketika kita mengundang masuk ke ruang tamu rumah, apalagi di momen sakral penyambutan keluarga baru, pilihan tamu itu mencerminkan nilai tuan rumah.

UI bebas berdiskusi dengan siapa saja di forum kritis yang tepat, dengan kurasi dan counter-speech yang memadai.

Tetapi menjadikan panggung orientasi sebagai platform legitimasi, tanpa keseimbangan suara korban, sama seperti membiarkan tamu menyerahkan kartu nama di depan seluruh keluarga sembari mengatakan, “Beginilah standar nilai rumah Anda.”

Argumen Pertama: UI Bukan Ruang Hampa dari Konstitusi

Pembukaan UUD 1945 bukan slogan; ia kompas etis yang memandu institusi publik, termasuk universitas negeri. Ketika UI memberi panggung pada pandangan yang merelatifkan atau menormalisasi tindakan koersif terhadap populasi sipil, UI terlihat menggeser pijakan dari mandat konstitusional.

Kita tidak sedang menuntut sensor; kita menuntut konsistensi nilai, bahwa ruang yang diberi stempel UI harus sepadan dengan amanat konstitusi dan kebijakan resmi negara yang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.

Argumen Kedua: Kebijakan Pemerintah dan Sikap Presiden

Pemerintah Indonesia, termasuk pernyataan-pernyataan pimpinan nasional, berulang kali menegaskan dukungan kemanusiaan bagi Palestina, mengecam kekerasan terhadap warga sipil, dan mendorong solusi damai yang adil.

Semangat itu adalah garis panjang tradisi diplomasi kita. Ketika UI, sebagai institusi rujukan bangsa, justru memberi panggung yang secara substansi bertolak belakang dengan empati nasional, UI bukan hanya abai pada sensitivitas publik, melainkan juga tampak tidak selaras dengan kebijakan pemerintah yang menolak penjajahan.

Rektor UI, dalam kapasitas moral dan administratif, semestinya membaca arah angin kebijakan negeri ini, bukan melawannya.

Argumen Ketiga: Orientasi Bukan Forum “Debat Bebas” Biasa

Orientasi mahasiswa baru bukan seminar ad hoc. Ia adalah ritus inisiasi, peletakan batu pertama etika akademik. Karena itu, standar kurasi pembicara di orientasi harus lebih ketat daripada forum ilmiah biasa.

image_print
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.