Berdasarkan hasil pemeriksaan dan olah TKP, Karopenmas menyebut, aksi adu tembak maut itu bermula saat Brigadir Yosua memasuki kamar pribadi Irjen Ferdy Sambo.
“Istri dari Kadiv Propam sedang istirahat. Kemudian Brigadir J melakukan tindakan pelecehan dan juga menodongkan pistol ke kepala istri Kadiv Propam. Sontak seketika Ibu Kadiv Propam berteriak minta tolong,” ungkap Ramadhan.
Bharada E yang mendengar teriakan itu pun langsung menuju lokasi suara berasal. Singkat cerita, Brigadir Yosua justru melepas sejumlah tembakan ke arah Bharada E yang datang. Bharada E pun lantas membalas tembakan itu hingga menewaskan Brigadir Yosua.
“Perlu kami sampaikan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Bharada E adalah tindakan untuk melindungi diri karena ancaman dari Brigadir J,” kata Karopenmas.
Polisi Periksa 3 Saksi
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto mengatakan telah memeriksa beberapa saksi.
“Saat ini yang sudah menyelesaikan BAP sebanyak tiga orang yang saat itu ada di TKP,” ujar Kapolres.
Budhi menuturkan 3 saksi tersebut merupakan orang yang berada di tempat kejadian perkara saat peristiwa itu terjadi.
Selain itu, petugas juga telah menangkap Bharada E dan dilakukan pemeriksaan di Propam Polri terkait kejadian tersebut, untuk mencari tahu motif Brigadir Pol J memasuki rumah pejabat Polri tersebut.
Budhi mengungkapkan pihak Polres Metro Jakarta Selatan menangani penyidikan kasus tersebut karena wilayah Jakarta Selatan.
“Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan sudah menangani. Karena TKP masuk wilayah hukum Jaksel,” tuturnya.
CCTV Tersambar Petir
Sementara di Kompleks Polri Duren Tiga, Satpam bernama Jafar memberi tahu kamera tersembunyi atau CCTV yang berada di pos keamanan rumah Dinas Polri tersebut ada 2 dari 8 yang rusak dan baru diservis karena sempat tersambar petir.
Keluarga Temukan Kejanggalan pada Tubuh Brigadir Yosua
Rohani Simanjuntak selaku tante korban mengatakan, kondisi jasad Brigadir Yosua terungkap setelah orang tua korban meminta izin kepada Mabes Polri untuk melihat jasad anaknya di dalam peti jenazah.
Setelah mendapat izin, pihak keluarga menemukan dua jari Brigadir Yosua putus. Namun, Rohani tidak merinci jari mana saja yang putus. Ia juga mengatakan terdapat luka di jari kelingking Yosua.
“Jarinya ini ada dua yang patah, ada luka di jari kelingking,” kata Rohani, pada program Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Selasa (12/7/2022).
Keluarga korban juga membuka baju yang dikenakan almarhum untuk memeriksa luka di sekujur tubuh Brigadir Yosua. Keluarga kemudian menemukan terdapat empat luka tembak, luka sayatan di bagian wajah, luka benda tajam, dan lebam di perut Brigadir Yosua.


















































































































Komentar Terbaru