Istilah negatif itu kata dia, akan lebih mempertebal penggunaan identitas agama dimasukkan ke dalam turbulensi politik demi peningkatan elektoral.
Viva menjelaskan, memilih dan dipilih adalah nilai dari hak asasi dan bagian dari demokrasi.
Mereka yang memilih atau dipilih oleh kalangan masyarakat yang menilai dari kesamaan primordial atau berdasarkan suku, agama, ras, etnis, atau budaya adalah hak politik warga yang dijamin oleh konstitusi.
“Tetapi jangan memasukkan perbedaan primordial itu untuk alat politik dalam rangka menjelekkan, memfitnah, hate speech dari figur tertentu untuk tujuan meningkatkan elektoral. PAN menentang dan menolak gaya dan cara politik identitas seperti ini,” tuturnya.





























































































Beri Komentar