Puncak kekesalannya adalah ketika ia tahu salah satu jabatan dalam Panca Ring Majapahit, yaitu Rakryan Mahapatih Sanagara atau Patih Amangkubhumi, justru dilimpahkan kepada Dyah Nambi. Padahal, Dyah Nambi nggak begitu tampak andil dan batang hidungnya di masa-masa pergolakan menumpas Prabu Jayakatwang dan memukul mundur pasukan Mongol.
Ranggalawe sempat melayangkan protes sih, ke Raden Wijaya. Tapi, jawaban dari sang prabu malah membuat hatinya makin tertohok.
Kata Raden Wijaya, jabatan Panca Ring Majapahit atau kementerian di bawahnya terlalu sentral untuk diisi oleh orang berwatak keras dan grusa-grusu seperti Ranggalawe. Terlalu banyak proyeksi dan kebijakan-kebijakan yang harus dipikir dengan terukur dan perencanaan yang matang dalam tugas kepatihan, apalagi jabatan Patih Amangkubhumi. Dan Ranggalawe dianggap nggak punya kredibilitas dalam konteks tersebut.
Akhirnya, karena merasa dikhianati, pada akhir 1295 Ranggalawe menghimpun pasukan dari Tuban dan Madura untuk menyerang keraton utama Majapahit di Trowulan. Namun, pemberontakan tersebut berhasil dibereskan dengan mudah oleh pihak Majapahit.
Perlawanan Ranggalawe pada masa itu memang diprediksi bakal sulit. Sebab Majapahit diperkuat oleh Dyah Kebo Anabrang, prajurit andalan mendiang Prabu Kertanegara yang baru pulang dari eskpedisi Melayu dan langsung mengabdikan diri kepada Raden Wijaya.
Benar saja, dalam pertempuran ini, nyawa Ranggalawe tumpas di tangan Dyah Kebo Anabrang, dan mengakhiri perlawanan mencari keadilan yang ia lakukan.


















































































































Komentar Terbaru