Ketika tantrumnya sudah selesai, ada ibu-ibu lewat yang sambil jalan mengatakan “Ini nih ya anak nakal yang dari tadi nangis-nangis saja ya, yang ga bisa diam dari tadi ya, nakal sekali ya, nangis teriak ga berhenti.”
“Pernah juga ketika Kenneth Trevi masih berusia 2 tahun dibilang anak yang ga bisa apa-apa, anak yang bodoh dibanding anak-anak lain yang sudah bisa melakukan banyak hal. Saat itu aku hanya senyum saja ketika Kenneth Trevi dikatakan tidak bisa apa-apa, dan meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan. Sejak saat itu, di dalam hati aku selalu mengatakan ke diri aku sendiri, suatu saat akan kubuktikan kalau anakku akan menjadi sosok yang bisa dibanggakan,” kata Yuly.
Menurut Yuly, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sangat rentan untuk menjadi bahan bully-an. Mau bagaimanapun, ABK akan selalu terlihat berbeda dibanding anak-anak lain. Perbedaan tersebut yang menjadikannya sebagai objek untuk di-bully.
Budaya tersebut terjadi karena kurangnya empati orang-orang terhadap ABK, kurangnya kesabaran ketika harus berhadapan dengan ABK, dan mungkin juga karena ada banyak orang yang tidak tahu dan tidak paham harus bagaimana cara berhadapan dengan ABK. Mereka takut dan menghindar untuk berinteraksi dengan ABK, bahkan hanya jadi bahan olok-olokan bagi mereka.
Yuly berharap, semua ABK bisa diperlakukan sama seperti Non ABK, bisa diterima, dan dirangkul seperti anak-anak pada umumnya. ABK punya banyak keterbatasan, tapi mereka juga sama-sama punya kebutuhan untuk berinteraksi, meski dengan cara yang berbeda.
“Aku berharap masyarakat bisa membersamai mereka, bisa memperlakukan mereka sama seperti orang-orang pada umumnya, tidak mengasihani mereka, tapi kasihi mereka dengan tulus,” kata Yuly.
Yuly berpesan, jika ada anggota keluarga kita yang ABK, upaya pertama kali yang harus kita lakukan adalah penerimaan. Ketika kita sudah bisa menerima kondisi anak kita, maka kita juga tidak akan malu, dan akan dengan percaya diri membawa anak kita ke lingkungan sosial.
Setelah itu, barulah kita bisa mengambil langkah selanjutnya dengan memulai terapi, membekali anak untuk kemandiriannya, mencari potensi yang ada dalam diri anak walaupun tidak mudah. Tapi pasti ada potensi yang diselipkan oleh Tuhan pada si anak.
Sebagai orang tua ABK, Yuly selalu menghargai dan mensyukuri progress sekecil apapun yang ditunjukkan oleh anaknya tersebut. Di balik progress kecil itu, percayalah mereka sudah melewati proses perjuangan yang sangat tidak mudah.
Dimulai dari kita sendiri sebagai orang tua dan keluarga yang terlebih dahulu menghargai setiap progress kecil tersebut, dan sangat perlu diketahui oleh orang-orang bahwa mereka melewati proses yang tidak mudah untuk mencapai suatu hal yang sangat sederhana. Sehingga orang di luar pun bisa ikut menghargai prosesnya yang tidak mudah. Di sinilah keistimewaan mereka yang sangat perlu kita hargai, bukan untuk di-bully.






























































































Beri Komentar