Septia merupakan buruh terlama kedua di perusahaan itu. Berbagai pengalaman pahit pun telah dirasakannya.
“Apa yang terjadi dalam 21 bulan tersebut yang saya lihat dan dengar lebih menyakitkan dari apa yang saya jelaskan di dalam pengadilan ini. Pemacatan mendadak tanpa adanya peringatan membuat saya seperti bekerja di ujung jurang. Setiap hari, saya selalu mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu mendapatkan diri dan akan dipecat,” ungkap Septia.
“Selain itu, saya harus mempersiapkan mental jika gaji saya dipotong tanpa alasan yang jelas. Bahkan akibat kesalahan orang lain pun saya terkena dapat pemotongan gaji. Hal tersebut membuat saya merasa tidak akan pernah terhindar dari pemotongan gaji,” tambahnya.
Berbagai cuitan yang diunggahnya itu, menurut Septia, hanya sebatas meluapkan apa yang dirasakannya selama ini. Ia mengeklaim, tak ada niat menyakiti siapapun.
“Saya tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik siapapun. Apa yang saya lakukan hanya berkomentar selayaknya dilakukan oleh ribuan pengguna Twitter lain terhadap tweet tersebut,” kata Septia.
Untuk itu, Septia meminta kebijaksanaan majelis hakim dalam memutus perkaranya.
“Saya meyakini bahwa perkara ini bukanlah perkara tindak pidana. Untuk itu, Majelis Hakim yang mulia, saya memohon untuk dilepas dari dakwaan dan tuntutan hadap saya dalam perkara ini,” ujarnya.
Serahkan 15 Amicus Curiae
Kasus yang menjerat Septia ini pun menarik perhatian publik. Banyak masyarakat yang mendukungnya. Beberapa di antaranya bahkan ikut mengirimkan amicus curiae atau sahabat peradilan.
“Kami juga menyerahkan 15 amicus curiae atau dokumen sahabat peradilan yang dikirimkan dari 14 organisasi masyarakat sipil dan juga satu dari lembaga negara yaitu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia,” kata pengacara Septia, Gina Sabrina.
Amicus curiae itu pun telah diserahkan kepada majelis hakim. Selain itu, Gina mengungkapkan, ada petisi daring yang telah ditandatangani oleh 6.612 masyarakat yang mendukung pembebasan Septia.
“Tentu kami berharap penyerahan dokumen baik amicus curae maupun dan juga petisi daring yang mendukung Septia itu dipertimbangkan sebagai hakim, terketuk nuraninya untuk mempertimbangkan berbagai nota pembelaan dan juga dukungan-dukungan publik untuk membebaskan Septia,” ujar Gina.


















































































































Komentar Terbaru