Dengan tegas, Yos menyebut budaya yang dilukiskannya ini sebagai cerminan hiper individu yang melahirkan mentalitas penjilat. Namun, kurator merasa karya ini “terlalu eksplisit.”
Eksplisit? Ataukah seni dilarang menelanjangi kenyataan yang menimpa rakyat di era Joko Widodo? Ketika itu, ia memaksakan pembangunan IKN ke para pejabat yang selalu menjilat?
Awalnya, kedua lukisan ini disepakati akan ditutup dengan kain hitam. Namun, akhirnya tetap diminta diturunkan.
Ada pula lukisan petani tanpa baju tampak menyuapi pria berdasi yang berbaring santai dengan baju warna biru. Kritik tajam Yos atas ketimpangan ekonomi ini menggambarkan bagaimana petani, sebagai tulang punggung ekonomi, justru lebih sering memberi makan penguasa, sementara diri mereka paling sedikit menikmati hasilnya.
Semula, karya ini tidak dipermasalahkan, karena lukisan hanya menampilkan gambar suap-menyuap. Namun, sesaat sebelum pameran dibuka, tiba-tiba kurator memutuskan karya ini “tidak relevan” dengan tema pameran. Tidak relevan? Bukankah “kedaulatan pangan” dimulai dari petani yang, di lukisan, tampil dengan caping di kepala?
Jika kurator menyebut alasan pemberedelan seperti “vulgar,” “tidak relevan,” maka pihak Galeri Nasional berdalih bahwa pembatalan ini disebabkan “kendala teknis.” Padahal, publik yang cerdas tentu tahu bahwa ini hanyalah eufemisme bagi ketakutan pihak tertentu. Apakah seni yang berbicara terlalu lantang tentang realitas kini menjadi ancaman?
Yos Suprapto, lahir di Surabaya pada 1952, bukan nama baru di dunia seni Indonesia. Dengan gaya realisme simbolis yang khas, ia telah lama menjadikan kanvas sebagai medan perangnya. Lukisan-lukisannya, dari “Republik Udang” hingga “Bersatu dengan Alam,” adalah cermin tajam bagi masyarakat.
Namun, keberanian Yos kali ini berhadapan dengan tembok penyensoran yang lebih tebal dari cat di kanvasnya. Jika seni di negeri ini hanya boleh menyenangkan, enak dilihat tanpa menyinggung perasaan yang membentur realitas, apa kita harus membatasi lukisan pada bunga dan pemandangan. Tetapi, apa gunanya seni tanpa keberanian?
Syukurlah, Yos Suprapto tak bergeming. Seniman ini berani berdiri tegak melawan kekuasaan, meski harus dibungkam oleh narasi yang lebih mementingkan kenyamanan daripada kebenaran. Drama pemberedelan atas karyanya ini adalah sebuah ironi pahit tentang bagaimana seni, yang seharusnya bebas, justru dipasung oleh ketakutan.
Dan seperti semua lelucon yang baik, lakon ini membawa kita pada pertanyaan mendasar: apakah seni di negeri ini masih menjadi suara kritis, ataukah ia telah terdegradasi menjadi sekadar pajangan aman bagi para elite? Meskipun Jokowi, yang kini tak lagi berkuasa, telah menjadi subjek kritiknya? Jawabannya, sayangnya, terkunci rapat di balik pintu Galeri Nasional.
































































































Beri Komentar