UPDATE

DUNIA
INTERNASIONALPALESTINA

Zionis Kesal Meski Hamas Bebaskan 4 Tentara Israel yang Disandera, Ini Sebabnya

Namun kegembiraan di Israel pada hari Sabtu dibayangi oleh kekesalan setelah seorang sandera sipil wanita yang diharapkan akan dibebaskan pada hari Sabtu, tidak dibebaskan. Arbel Yehud (29) diculik bersama pacarnya dari rumah mereka di Kibbutz Nir Oz pada 7 Oktober 2023.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan bahwa hal itu merupakan pelanggaran gencatan senjata, sementara Hamas mengatakan bahwa itu adalah masalah teknis.

Seorang pejabat Hamas mengatakan bahwa kelompoknya telah memberi tahu para mediator bahwa Arbel Yehud masih hidup dan akan dibebaskan Sabtu depan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa warga Palestina di Gaza tidak akan diizinkan untuk menyeberang kembali ke wilayah utara sampai masalah tersebut diselesaikan.

Ratusan ribu warga Palestina telah mengungsi dari Gaza utara selama perang dan banyak yang berharap untuk kembali mulai hari Minggu (26/1/2025).

Seorang pejabat Palestina mengatakan kepada Reuters bahwa para mediator sedang berupaya menyelesaikan masalah tersebut.

Perjanjian gencatan senjata, yang disusun setelah berbulan-bulan negosiasi yang ditengahi oleh Qatar dan Mesir serta didukung oleh Amerika Serikat, telah menghentikan pertempuran untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata yang berlangsung hanya seminggu pada November 2023.

Dalam fase enam minggu pertama kesepakatan tersebut, Hamas telah setuju untuk membebaskan 33 sandera, termasuk anak-anak, wanita, pria tua, serta orang sakit dan terluka, dengan imbalan ratusan tahanan Palestina di penjara Israel, sementara pasukan Israel mundur dari beberapa posisi mereka di Jalur Gaza.

Dalam fase berikutnya, kedua belah pihak akan menegosiasikan pertukaran sandera yang tersisa, termasuk pria yang berusia wajib militer, dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, yang sebagian besar telah hancur setelah 15 bulan pertempuran dan pengeboman.

Setelah pembebasan pada hari Sabtu, 90 sandera masih berada di Gaza, menurut otoritas Israel, yang telah menyatakan sekitar sepertiga dari mereka tewas secara in absentia.

Keluarga sandera yang tidak diikutsertakan dalam tahap pertama khawatir gencatan senjata akan gagal sebelum mencapai tahap berikutnya dan orang-orang yang mereka cintai akan tertinggal di Gaza.

Israel melancarkan operasinya di Gaza menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober, ketika para milisi Palestina yang dipimpin Hamas menewaskan 1.200 orang dan membawa lebih dari 250 sandera ke Gaza, menurut penghitungan resmi Israel. Sejak itu, lebih dari 47.000 warga Palestina telah tewas di Gaza akibat invasi brutal Israel, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.