Peluru musuh mengenai kaki Sertu Solihin dan menyerepet kerah baju Sertu Enjang. Letda Richard segera menghubungi Satgas Pur 1 untuk meminta evakuasi helikopter. Sayangnya, kondisi medan yang berbahaya membuat helikopter tidak bisa segera mendarat.
Semakin banyak darah yang hilang, kondisi Prada Heroik dan Pratu Hartono semakin kritis. Hingga akhirnya, di tengah suasana yang penuh haru, Sertu Sumardi berteriak, “Dantim, Heroik dan Hartono sudah nggak ada!” Seketika suasana berubah menjadi kesedihan mendalam bagi seluruh prajurit.
Marah dan duka, mendorong Praka Anang dan Praka Kadek berinisiatif mencari posisi musuh yang tersisa. Dengan merayap melalui sawah, mereka akhirnya menemukan persembunyian GAM di balik irigasi. Dalam hitungan detik, keduanya menembak mati dua anggota GAM terakhir dan menyita dua pucuk senjata AK-47.
Pertempuran berakhir dengan kemenangan bagi Tim Gading 3, yang berhasil merebut enam pucuk senjata dan menewaskan delapan anggota GAM. Namun, kemenangan ini harus dibayar mahal dengan gugurnya dua prajurit terbaik, Prada Heroik Teguh Putra dan Pratu Hartono, yang bertempur dengan gagah berani hingga akhir hayat mereka.
Sebagai penghormatan atas pengorbanan mereka, nama Prada Anumerta Heroik Teguh Putra dan Pratu Anumerta Hartono diabadikan menjadi nama gedung dan lapangan olahraga di Grup 1 Kopassus, Serang. Semangat juang dan pantang menyerah mereka akan selalu menjadi inspirasi bagi seluruh prajurit TNI.
Sumber: Media
















































































































Komentar Terbaru