“Kejadian itu awalnya kami 10 orang, kami makan di warkop Aceh di simpang empat. Kemudian, kami mau kerumah temannya kami ke Sei Lama, untuk mengambil baju,” ungkap anak kelas 12 SMA tersebut, Rabu (12/3/2025).
Lanjutnya, saat dalam perjalanan. Ada gerombolan warga yang hendak melakukan balap lari. Sehingga, korban dan 9 orang rekannya terhenti untuk melihat balap tersebut.
“Mereka masih persiapan, tiba-tiba polisi datang. Mereka ini berhamburan, kami juga lari. Saat itu, posisi saya sama teman-teman berbonceng lima dengan satu sepeda motor,” katanya.
Karena melihat situasi sepeda motor berat, dirinya lompat dan meninggal empat orang rekannya yang menggunakan sepeda motor.
“Saya lompat, langsung lari ke arah sawitan. Korban ini dibonceng ke empat, lompat juga setelah 100 meter saya lompat,” ungkapnya.
Namun, sayangnya korban berhasil diamankan dan dibawa ke Polsek Simpang Empat untuk dilakukan pemeriksaan.
“Disana, kami sempat komunikasi, kami telfon dia katanya setelah lompat itu, ditabrak dan ditendang sebanyak dua kali oleh polisi tersebut,” ungkapnya.
Jelasnya, korban sempat bercerita dianiaya oleh oknum polisi saat sedang diamankan di Desa Sei Lama, Simpang Empat, Kabupaten Asahan.
“Pengakuan dia, di Polsek memang gaada dianiaya, cuma waktu diamankan itu dia ngaku ada ditendang dua kali di bagian perutnya,” ungkapnya.
Dijelaskannya, saat di Polsek, korban mengeluhkan perutnya sudah sakit dan terlihat lemas.
“Disitu dia mengeluh perutnya sakit. Kemudian, diurut oleh keluarganya. Dia merasa enakan. Setelah itu, ga lama dianngeluh lagi perutnya sakit,” ungkapnya.
Ia mengaku, korban dilarikan kerumah sakit umum Abdul Manan Simatupang Kisaran pada Senin, (10/3/2025) pagi. Setelah mendapatkan perawatan dan dilakukan Rontgen, diketahui terdapat beberapa luka lebam yang diduga akibat benda tumpul.
“Keterangan dokter saat itu, korban ini mengalami luka bocor pada lambungnya karena adanya pukulan dari benda tumpul,” ungkapnya.
Setelah hasil tersebut keluar, korban meninggal dunia pada pukul 17.00 wib.
Keluarga korban, Ragil Siregar, meminta agar hasil ekshumasi tidak dimanipulasi dan menjadikan perkara ini terang benderang.
“Harapan keluarga, hasil ini terbongkar jangan ada di neko-neko,” kata Ragil Siregar.
Kakak korban, mengaku Pandu Brata Siregar merupakan anak yang pendiam dan tidak banyak bicara ketika berkumpul dengan keluarga.
“Dia (Pandu) pendiam, tidak banyak bicara. Dia baik dan hobi berolahraga,” katanya.
Selain itu, korban memiliki hobi masak dan mengulik makanan-makanan yang dia suka. “Dia ga neko-neko, dia anak rumahan,” katanya.
































































































Beri Komentar