Namun, Prabowo tampaknya berusaha menjaga keseimbangan dalam dinamika ini. Saat menghadiri kongres Partai Demokrat pada 25 Februari 2025, Prabowo menegaskan bahwa ia tidak merasa “dicawe-cawe” oleh Jokowi maupun SBY. Sebaliknya, ia justru mengaku sering meminta masukan dari para tokoh senior, termasuk SBY, dalam menjalankan pemerintahannya.
Di tengah situasi yang semakin dinamis, publik kini menunggu bagaimana arah hubungan antara SBY, Prabowo, dan Jokowi ke depan. Apakah upaya pembenturan ini akan berdampak nyata pada peta politik nasional? Ataukah ini hanya sekadar dinamika biasa dalam pusaran kekuasaan?
































































































Beri Komentar