UPDATE

Salam.life
EKONOMIBISNIS

Ekonom USK Dorong Pemerintah Aceh Lakukan Hilirisasi Perikanan

BANDA ACEH – Pengamat ekonomi USK Dr. Chenny Seftarita, SE,M.Si dorong Pemerintah Aceh untuk melakukan hilirisasi sektor perikanan untuk meningkatkan nilai produk, sekaligus sebagai strategi pengendalian inflasi.

Hal ini dikatakan Chenny pada acara talk show yang mengangkat tema “Inflasi dan Dampaknya Terhadap Bisnis di Aceh” disiarkan RRI Pro1 Banda Aceh, Sabtu, (17/05/2025).

Menurut Chenny beberapa komoditas perikanan ikut berkontribusi atau menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Aceh seperti ikan tongkol, ikan kembung, daging, dan telur yang termasuk dalam kelompok Volatile Food.

“Melihat trend inflasi di Aceh dibandingkan dengan rata-rata nasional jadi memang inflasi di Aceh itu relatif lebih tinggi,” kata Chenny mengawali pembicaraan.

“Saya dapat data dari BPS namun data terakhirnya itu 2024 ya Nah untuk tahun 2024 aja inflasi tahunan itu sekitar 2,17% ya di atas nasional yang 1,57 persen,” ujarnya.

Chenny menambahkan, kita pernah Ya ada di posisi yang lebih rendah dari yang nasional itu di tahun 2023 pernah inflasi itu mencapai 1,53 persen, sedangkan di nasional itu 2, 61 persen ya. Nah kalau kita melihat tahun 2025 ini per April 2025 itu inflasi cukup tinggi hari raya 3,11 persen.

Meskipun demikian, dia menyarankan masyarakat agar tidak panik karena tingkat inflasi yang terjadi masih dalam range target inflasi pemerintah yakni 2,5% plus minus 1, walaupun ada beberapa komoditas yang harganya sangat tinggi seperti harga emas.

Kemudian beberapa waktu terakhir harga-harga komoditas juga mengalami peningkatan misalnya ikan tongkol.

“Sekarang ibu-ibu yang di rumah bapak ngasih uangnya sedikit bapak ngasih uangnya sedikit gitu ya tetapi apa apa ya item barang itu kok makin lebih sedikit lagi,” papar Chenny yang juga Koordinator Prodi EKP di FEB USK mengilustrasikan dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat.

Chenny juga menjelaskan secara rinci penyebab terjadinya inflasi. Dikatakan bahwa faktor permintaan dapat mempengaruhi tingkat inflasi, apalagi jika permintaan tersebut tinggi, maka harga-harga pasti naik.

Khusus komoditas ikan, Chenny menilai, permintaan ikan jenis tongkol tergolong tinggi di pasar.

“Masyarakat Aceh ternyata sangat menyukai ikan tongkol, sisek atau sejenisnya. Sehingga permintaan relatif selalu tinggi, akibatnya terjadi peningkatan harga, tentu berdampak terhadap kenaikan inflasi,” katanya.

Saat ditanya apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Aceh atau dinas terkait guna menjaga inflasi akibat kenaikan harga ikan. Chenny mengatakan agar pemerintah dapat meningkatkan produksi ikan sehingga arus supply dapat memenuhi permintaan terutama kebutuhan lokal.

Selanjutnya Chenny menyarankan, dalam menjaga stabilitas harga dapat pula membangun gudang pendingin/beku (Cold storage) untuk menyimpan ikan, terlebih pada puncak musim panen dimana hasil tangkapan nelayan melimpah.

“Simpan dulu nanti baru dikeluarkan lagi,” ungkap Chenny.

Pemerintah Aceh perlu segera untuk melakukan hilirisasi di sektor kelautan dan perikanan. Aceh memiliki sumber daya ikan yang besar, namun belum memberikan nilai tambah. Sebab itu kehadiran industri pengolahan baik skala UKM maupun skala menengah sangat diperlukan.

“Dari sisi produk sebenarnya Aceh juga tidak kalah bagusnya dengan produk luar, namun kita masih kurang maksimal dalam pemasaran. Inilah saatnya pelaku UKM untuk masuk ke pasar digital dan multi platform sehingga jangkauan pemasaran akan semakin luas, inilah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha,” pungkasnya.[]

image_print
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.