Menempatkan orang lain sebagai penjahat
Menulis adalah senjata, maksud saya senjata itu sebuah alat yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan.
Dalam hubungan positif, senjata bisa digunakan sebagai alat keselamatan diri dan orang lain. Namun jangan lupa, senjata juga bisa dipergunakan sebagai alat untuk membunuh atau membinasakan orang lain, bahkan bisa menjadi senjata makan tuan.
Sebuah tulisan pasti menimbulkan pengaruh terutama bagi pembacanya. Opini dan persepsi pembaca seringkali dapat dengan mudah dibentuk melalui karya tulis. Sesuatu yang dianggap buruk didalam masyarakat bisa berubah menjadi sangat positif karena ada upaya pembentukan opini yang dilakukan oleh pekerja jurnalistik.
Oleh karena itu hindari membangun opini dalam sebuah tulisan kita yang dapat menempatkan orang lain atau menimbulkan persepsi sebagai seorang penjahat, apalagi jika dengan sengaja kita lakukan. Hal ini bukan hanya melanggar etika jurnalistik dan etika profesi namun juga tidak mencerdaskan publik.
Lalu bagaimana jika menulis tentang peristiwa korupsi atau kejahatan lainnya yang dilakukan oleh seseorang? Jawabannya, apakah hal itu perlu diberitakan? Kalau iya, maka carilah sudut pandang yang mencerahkan publik.
Jika beberapa poin diatas dapat dilakukan, sekurang-kurangnya kita telah menjaga keselamatan diri dengan baik dalam melakukan pekerjaan jurnalistik. “musuh jangan dicari, ketemu musuh ajak berdamai”, mungkin prinsip itulah barangkali cocok untuk menjadi pegangan.
Selebihnya marilah kita berupaya agar profesi jurnalis menjadi profesi yang mulia, memberikan kontribusi terhadap kemajuan peradaban ilmu pengetahuan, dan membawa kedamaian ditengah-tengah masyarakat.
Penulis adalah warga biasa yang tertarik dengan dunia kepenulisan berdomisili di pinggiran Kota Banda Aceh





























































































Beri Komentar