UPDATE

OPINI
OPINI

Pekerja Jurnalis dalam Ancaman?

Pahami peran menulis

Ini sebagai langkah awal membangunkan kesadaran kita sebelum menjadi seorang penulis. Tanamkan dalam alam bawah sadar kita bahwa menulis itu memiliki peran dalam mencerdaskan dan wawasan manusia.

Oleh sebab itu tulisan yang dihasilkan oleh seorang jurnalis atau penulis dapat mencerahkan, positif dan mempengaruhi cara pandang orang menjadi lebih jernih terhadap suatu objek.

Menulis berarti meng-organisasi gagasan secara sistematis dan mengungkapkannya secara tersurat.

Dengan demikian permasalahan yang semula masih samar menjadi lebih jelas. Bukan sebaliknya, justru menimbulkan kekaburan dan menciptakan perdebatan tanpa dasar. Karenanya lakukan peran menulis dengan baik dan niat mulia.

Jadilah penulis beretika

Bukan hanya sebagai jurnalis, semua penulis pun perlu memiliki etika dalam melakukan pekerjaannya. Etika akan mengarahkan seseorang kepada perbuatan baik, jujur, dan bertanggung jawab. Sikap tersebut dapat mempengaruhi karya jurnalistik mereka.

Dengan mengindahkan etika penulisan dan etika profesi membuat seseorang dapat melihat batasan-batasan secara jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh untuk dituliskan sebagai konsumsi publik.

Prinsip bahwa kebenaran harus diungkapkan, namun perlu diperhatikan juga dari sudut pandang mana kebenaran itu dinilai. Apa standar kebenaran yang dimaksud dan hendak diungkap. Bahkan adakalanya kebenaran itu akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu dicari-cari dalam tumpukan kesalahan.

Siap menerima resiko

Tidak ada pekerjaan apapun di dunia ini yang tidak memiliki resiko. Semua pastinya ada konsekuensi yang harus ditanggung dan diterima oleh seseorang. Termasuk dalam pekerjaan menulis dan jurnalistik. Bahkan resiko sebagai seorang jurnalis ataupun wartawan lebih besar daripada profesi lainnya.

Apa yang dialami oleh Khasshogi hanyalah satu dari sekian ribu kasus lain yang sama pernah dialami oleh mereka yang berprofesi sebagai jurnalis.

Ancaman jiwa, teror terhadap keluarga, penjara dan kriminalisasi, pelecehan, penganiayaan adalah sederetan resiko yang kerap diterima oleh kawan-kawan wartawan. Demikian kerasnya cobaan dalam menjalankan profesi menulis.

Perkara ini bisa muncul karena apa yang kita tuliskan belum tentu pihak lain suka dengan cara kita. Sekalipun tulisan kita dalam konteks mengungkapkan sebuah kebenaran, faktual dan otentik.

Jangan terlalu keras mengkritik

Siapapun tidak senang kalau ia dikritik. Mungkin sekali atau dua kali, ia masih dapat merespon dan menerima secara positif. Namun jika sudah berkali-kali dikritik, maka jika meminjam istilah sebuah lagu ‘semut pun akan marah’. Lalu pasti akan terjadi perlawanan.

Lagi pula kritik yang terlalu masif tidak dapat mengubah apapun selain membuat pihak tertentu dipermalukan. Jadi silakan tulisan kita sarat akan kritikan namun menurut saya hal itu bukanlah sebuah karya tulisan yang selalu berkualitas. Kata orang sebagai upaya chek and balance, ya sepakat untuk itu. Tetapi tidak harus selalu dengan bombamdir kritikan.

image_print
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.