UPDATE

NASIONAL

Ayah Prada Lucky Buru Akun Istri TNI yang Tuduh Anaknya Punya Kelainan Seksual: Cari Sampai Dapat!

Kasus kematian Prada Lucky Namo berawal dari pemeriksaan internal oleh staf intelijen Yonif TP 834/Wakanga Mere pada 27 Juli 2025.

Lucky, prajurit muda TNI AD yang baru dua bulan bertugas, sempat melarikan diri ke rumah ibu asuhnya sebelum dibawa kembali ke markas.

Di sana, ia diduga mengalami penganiayaan oleh puluhan senior menggunakan tangan kosong dan alat seperti selang, meski pimpinan batalyon telah melarang kekerasan fisik.

Penganiayaan berulang terjadi hingga 30 Juli, menyebabkan kondisi Lucky memburuk.

Ia dirujuk ke RSUD Aeramo pada 2 Agustus dalam kondisi lemah, dengan luka lebam, sayatan, dan bekas sundutan rokok di tubuhnya.

Setelah dirawat intensif selama empat hari, Lucky meninggal dunia pada 6 Agustus pukul 11.23 Wita.

Kini, kasus tersebut ditangani oleh Sub Detasemen Polisi Militer IX/1-1 Ende, dengan lebih dari dua lusin personel telah diperiksa.

Empat orang yang diduga menganiaya Prada Lucky Namo telah ditahan di Subdenpom Ende.

Mereka adalah Pratu Petris Nong Brian Semi, Pratu Ahmad Adha, Pratu Emiliano De Araojo, dan Pratu Aprianto Rede Raja.

Hasil pemeriksaan Staf-1/Intel Yonif 834/WM, empat senior tersebut diduga melakukan tindak kekerasan dengan cara memukul menggunakan tangan kosong.

Amarah Serma Christian Namo

Sersan Mayor Christian Namo tak terima anaknya mendapat penyiksaan dari anggota TNI.

Ia meminta para pelaku dipecat dari TNI dan dihukum mati.

“Nyawa beta taruhan, hukaman cuma dua buat anak saya, hukuman mati dan pecat tidak ada di bawah itu, nyawa saya taruhan tentara saya lepas,” kata Christian.

Ia menuntut keadilan atas tewasnya Prada Lucky bahkan siap bertaruh nyawa.

Christian meminta Indonesia dibubarkan jika tidak bisa menegakkan keadilan terhadap putranya.

“Dengar baik-baik, Merah Putih bubarkan saja, saya tanggung jawab, Merah Putih bubarkan saja, negara Indonesia bubarkan saja kalau keadilan memang tidak akan terjadi dan nyawa saya taruhan,” ujarnya.

“Saya tentara, tentara Merah Putih, jiwa saya Merah Putih, bukan kaleng-kaleng, Nyawa dibayar nyawa itu masih kecil, saya tunggu keadilan, kalau bisa semua dihukum mati,” sambungnya.

Serma Christian Namo tidak ingin ada kejadian serupa seperti yang dialami Prada Lucky Namor.

“Satu catatan, biar tidak ada Lucky-Lucky yang lain. Ingat baik-baik, anak tentara aja dibunuh kok, bagaimana mau yang lain,” jelasnya.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.