Jared Kushner, menantu Presiden Trump hanya fokus bicara proyek pembangunan kota metropolitan modern di wilayah Gaza, dari Rafah hingga Gaza City. Tapi tak ada penjelasan sedikitpun bahwa itu semua diperuntukan seluruhnya bagi warga Palestina, di Gaza dan bukan untuk warga Israel.
Kemerdekaan Palestina sepertinya hanya tahap akhir, kalau pun cita-cita ini berhasil, setelah proses final mega rekonstruksi Gaza. Kuasa kolonial Israel mendapat perpanjangan dengan formula two state solution ini, bahkan mendapat kavling yang mungkin lebih luas di tanah Palestina.
Agak aneh memang bukan kemerdekaan Palestina yang diberikan awal, hanya pemerintahan administratif tanpa disebut negara, dan semua fokus hanya pada pembangunan fisik proyek properti Gaza, (belum tentu termasuk Tepi Barat).
Aneh juga penarikan pasukan kolonial Israel akan dilakukan bertahap setelah Hamas dan persenjataanya benar dilumpuhkan dan tak ada lagi namanya pejuang kemerdekaan Palestina di Gaza.
Lupa Sejarah
Indonesia seakan lupa sejarah, turut sepakat melucuti kelompok pejuang kemerdekaan Palestina yang tergabung dalam Hamas, yang notabene bermula dari intifada, lemparan batu, hingga memiliki persenjataan canggih untuk melawan kolonialisme Israel.
Anti kolonialisme dan Imperialisme adalah suara konstitusi Indonesia yang tak pudar dimakan zaman. Akan kah hanya demi Dewan Perdamaian ini, kita melupakan panggilan konstitusi bahwa penjajahan harus dihapuskan dan kemerdekaan adalah hak segala bangsa?
Indonesia harus mampu keluar dari lingkar semangat kolonial dalam Dewan. Penjajahnya dilindungi serta dilestarikan, sementara warga yang melawan kuasa kolonial, dari Intifada, lemparan batu hingga senjata, justru menjadi pihak yang kembali terjajah.
Dalam Dewan Perdamaian ini Indonesia tampak harus berpihak pada kepentingan Israel, bersekutu dengan AS, ikuti keputusan melucuti Hamas dan menjamin Hamas tidak akan eksis di pemerintahan Palestina ke depan.
Tugas utama dari gencatan ini pun bagi kuasa kolonial Israel adalah melucuti persenjataan Hamas, mematikan organisasi Hamas dan Hamas tidak boleh eksis dalam pemerintah otoritas Palestina ke depan.
Target Israel adalah melumpuhkan Hamas karena bagi Israel itu sumber ancaman bagi kelangsungan perdamaian. Luar biasa kekuasaan kolonial, penjajah mendapat tempat di Dewan Perdamaian ini. Kuasa kolonial mendapat prioritas sementara Palestina tetap di posisi kelas dua.
Ini penting. Dalam Dewan Perdamaian ini semua negara, termasuk Indonesia tampak sepakat menyatakan bahwa Hamas adalah ancaman sekaligus persoalan, namun sebaliknya bukan penjajah Israel yang menjadi masalah.





























































































Beri Komentar