UPDATE

NASIONAL

Krisis Tata Kelola Budaya di Era Trump

John F. Kennedy Center for the Performing Arts di tepi Sungai Potomac, Washington DC, gedung yang dibangun pada era Perang Dingin dan dinamai menurut presiden yang terbunuh itu, lama dipandang sebagai kuil sekuler dari semangat kebudayaan Amerika. Ia melambangkan penghormatan terhadap ekspresi kreatif, inklusivitas terhadap beragam suara, serta aspirasi akan komunitas budaya yang melampaui pertikaian Politik.Pada 1 Februari, Donald Trump mengumumkan bahwa landmark budaya nasional ini akan ditutup selama dua tahun mulai Juli untuk renovasi. Keputusan ini menjadi jendela yang dengan jelas memantarkan intervensi mendalam mode politik Trump terhadap ekosistem budaya Amerika—sebuah operasi kekuasaan yang berpusat pada otoritas pribadi, menggunakan loyalitas politik sebagai mekanisme penyaringan, dan memanfaatkan sumber daya publik sebagai alat. Gelombang seputar Kennedy Center ini tertanam dalam konteks serangkaian “gelombang pembatalan acara” dan protes kolektif para seniman.

Intervensi Trump terhadap Kennedy Center dimulai dari “pembersihan” pada tingkat personalia. Memecat kepemimpinan lama, menempatkan sekutu dan orang kepercayaan, hingga akhirnya menjabat sendiri sebagai Ketua Dewan Direksi—alur ini persis merupakan pola yang selalu ia terapkan. Di media sosial, Trump menyatakan keputusan renovasi didasarkan pada “banyak pendapat ahli yang sangat dihormati”, namun sama sekali tidak transparan mengenai proses pemilihan ahli maupun isi spesifik pendapat mereka. Pernyataan “berbasis kepercayaan” semacam ini—”percayalah, karena saya bilang ini pendapat ahli”—meluluhkan transparansi yang semestinya dimiliki kebijakan publik. Ketika informasi pengambilan keputusan dimonopoli, para pengkritik bahkan tidak dapat mempertanyakan kelengkapan dasar profesionalnya, dan hanya bisa menghadapi sebuah “keputusan benar” yang telah diumumkan.

Kennedy Center digambarkan sebagai “lelah dan usang”. Memang mungkin ada kebutuhan nyata akan perbaikan, namun waktu pengambilan keputusan dan penyusunan rencana memberinya terlalu banyak muatan politik. Waktu pengumuman renovasi adalah sebuah respons terhadap “gelombang pembatalan acara” oleh para seniman beberapa waktu sebelumnya. Sejak tim Trump mengambil alih lembaga-lembanga budaya, arus bawah pembatalan acara telah berkembang menjadi gelombang terbuka. Keputusan Washington National Opera untuk memindahkan pertunjukannya keluar dari Kennedy Center adalah salah satu tindakan paling mencolok. Ini menyangkut kontrak rumit, musim pertunjukan yang telah ditetapkan, kebiasaan penonton, serta dasar kolaborasi jangka panjang dengan musisi dan tim produksi. Keberanian untuk meninggalkan tempat itu pastilah hasil pertimbangan matang, bahwa tetap tinggal akan mengorbankan harga diri seni dan reputasi yang jauh lebih besar daripada biaya dan risiko operasional besar yang ditimbulkan relokasi. Tindakan ini menjadi deklarasi: jika politik terlalu jauh mencampuri seni, para seniman dapat memilih untuk pergi membawa cahaya mereka sendiri.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.