UPDATE

NASIONAL

Isu BBM Naik Picu Panic Buying di Sumatera: SPBU Diserbu, Antrean Mengular

BANDA ACEH – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka peluang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jika harga minyak dunia melonjak tinggi langsung memicu reaksi pasar dan yang paling cepat bereaksi adalah masyarakat.Di berbagai daerah di Pulau Sumatera, antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mendadak memanjang. Warga berbondong-bondong membeli BBM karena khawatir harga akan segera naik atau pasokan terganggu.

Fenomena panic buying ini terlihat di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Kepulauan Meranti di Riau, terutama di kota Selatpanjang. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengular sejak pagi hari di beberapa SPBU.

Tidak sedikit warga yang datang membawa jeriken untuk menimbun bahan bakar sebagai cadangan. Akibatnya, aktivitas di sekitar SPBU jauh lebih padat dibandingkan hari-hari biasa.

Di beberapa titik, antrean kendaraan bahkan meluber hingga ke badan jalan dan memperlambat arus lalu lintas.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Kepulauan Meranti. Laporan dari berbagai daerah menunjukkan antrean panjang BBM juga muncul di sejumlah wilayah Sumatera, antara lain:

  • Pekanbaru – antrean motor dan mobil mengular di sejumlah SPBU sejak pagi.
  • Dumai – warga mulai membeli BBM menggunakan jeriken untuk stok.
  • Padang – antrean kendaraan meningkat drastis pada sore hari.
  • Palembang – beberapa SPBU dilaporkan mengalami keterlambatan suplai.
  • Jambi – antrean kendaraan sempat memicu kemacetan di sekitar SPBU.

Kondisi tersebut menunjukkan satu pola klasik di Indonesia, isu kenaikan harga BBM sering kali lebih cepat menyebar daripada penjelasan resmi pemerintah.

Seorang penarik becak di Selatpanjang mengaku mulai kesulitan mendapatkan BBM. Selain antrean panjang di SPBU, kios-kios penjual minyak eceran yang biasanya menjadi alternatif juga mulai kehabisan stok.

“Sekarang sudah mulai susah didapat. Kios-kios yang biasanya jual minyak eceran sudah banyak yang kosong,” ujarnya.

Menurutnya, SPBU memang masih beroperasi, tetapi masyarakat harus menghadapi antrean panjang karena jam operasional yang terbatas.

“SPBU buka siang sampai sore saja. Malam sudah tutup. Kalau minyak susah didapat, tentu kami yang menarik becak sangat terdampak,” katanya.

Bagi pekerja transportasi kecil, BBM bukan sekadar komoditas melainkan modal kerja harian.

Gelombang antrean ini muncul setelah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya yang menyebut pemerintah membuka kemungkinan menaikkan harga BBM jika harga minyak dunia melonjak terlalu tinggi.

Menurutnya, tekanan serius terhadap APBN bisa terjadi jika harga minyak dunia rata-rata mencapai US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN sekitar US$60 per barel.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.