Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kenaikan harga Pertamax yang dinilai berdampak terhadap meningkatnya harga kebutuhan masyarakat dan menurunnya daya beli.
Dalam orasinya, massa meminta pemerintah memastikan setiap kebijakan ekonomi tidak semakin membebani rakyat.
Isu lain yang turut disorot adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Mahasiswa menilai kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
Mereka juga meminta otoritas moneter mengambil langkah yang dinilai efektif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Hingga pukul 16.03 WIB, aksi unjuk rasa masih berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat kepolisian.
Demo di Depan Gedung DPR RI
Di lokasi terpisah, mahasiswa membuat spanduk nyeleneh yang dipajang di depan Gedung DPR RI pada Senin (15/6/2026).
Spanduk nyeleneh itu dipasang saat unjuk rasa bertajuk Menuju Indonesia Gagal yang digelar di depan Gedung DPR RI.
Spanduk berukuran 2×5 meter yang dipajang di gerbang DPR RI itu berisikan satir terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Spanduk itu berisi pertanyaan satir berupa pilihan ganda dari Mahasiswa soal “siapa yang turun duluan Prabowo-Gibran, Rupiah, BBM, atau Nabi Isa”.
Selain spanduk satir, mahasiswa juga memberikan karangan bunga untuk DPR RI.
Isi karangan bunga itu berisi ucapan selamat atas kegagalan kerja DPR RI seperti dimuat Tiktok BocahTambun.
Unjuk rasa tersebut merupakan bagian dari demonstrasi maraton yang digelar mahasiswa sebagai bentuk kritik terhadap kinerja pemerintah dan DPR RI selama 1,5 tahun terakhir.
Korupsi makan bergizi gratis (MBG) hingga pelemahan rupiah serta kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat mahasiswa meradang dan mengancam akan menggelar demonstrasi seperti Reformasi 1998.
Demonstrasi pertama digelar pada Jumat (12/6/2026) diikuti ribuan mahasiswa.
Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan evaluasi atas kritik yang dilayangkan mahasiswa.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membeberkan sejumlah langkah strategis pemerintah guna mengembalikan kepercayaan publik dan para pelaku ekonomi.
Mensesneg menegaskan Presiden Prabowo Subianto memberikan tiga arahan utama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Arahan pertama yakni deregulasi (penghapusan peraturan atau pembatasan) perizinan.
“Bapak Presiden menyampaikan bahwa kita harus terus berupaya untuk mempermudah perizinan-perizinan kita supaya iklim investasi dapat berkembang supaya ekosistem ekonomi kita juga dapat berkembang dengan jauh lebih kompetitif,” katanya di Jakarta, Senin (15/6/2026), sebagaimana dimuat KompasTV.































































































Beri Komentar