Ia bahkan mengatakan bahwa judul seperti “Prabowo dan Islam” akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam.
Dari sisi substansi, buku tersebut menurut informasi penerbit tidak dimaksudkan sebagai pembentukan mazhab atau aliran Islam baru.
Meski demikian, Amir menilai Prabowo tetap perlu berhati-hati.
Menurut dia, perang nirmiliter bekerja dengan cara yang jauh lebih halus dibandingkan perang konvensional.
Salah satu instrumennya adalah membangun persepsi mengenai seorang pemimpin.
Seorang pemimpin dapat dilemahkan bukan melalui serangan langsung, tetapi dengan menciptakan kontroversi di sekelilingnya.
Misalnya, menurut Amir, sebuah narasi dapat dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat melihat seorang pemimpin seolah-olah sedang membangun identitas keagamaan tertentu.
Jika narasi tersebut berkembang tanpa kendali, dampaknya bukan hanya terhadap pemerintah, tetapi juga terhadap hubungan Presiden dengan organisasi keagamaan dan kelompok masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Karena itu, Amir menilai hubungan pemerintah dengan kedua organisasi tersebut perlu dijaga secara hati-hati.
Presiden Prabowo sendiri sebelumnya menegaskan pentingnya NU dan Muhammadiyah bagi stabilitas nasional. Dalam kegiatan Muktamar NU di Jombang pada Agustus 2026, Prabowo menyebut keberadaan NU dan Muhammadiyah sebagai fondasi penting bagi kemajuan dan kedamaian bangsa.
Dari perspektif Amir, persoalannya bukan apakah Prabowo dekat atau tidak dengan Islam.
Persoalannya adalah bagaimana identitas, nilai dan hubungan Presiden dengan umat Islam dikelola dalam komunikasi politik.
Menurut dia, apabila sebuah buku menimbulkan persepsi yang berpotensi memunculkan jarak antara Presiden dengan organisasi Islam besar, maka pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu melakukan evaluasi.
“Jangan sampai produk yang sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan gambaran positif justru menghasilkan efek sebaliknya,” kata Amir.
Ia bahkan berpandangan bahwa buku tersebut layak dikaji ulang dan, bila ditemukan persoalan serius dalam proses penerbitan atau substansinya, dipertimbangkan untuk ditarik dari peredaran.
Namun, usulan penarikan tersebut tentu harus didasarkan pada pemeriksaan substansi dan proses penerbitan, bukan semata-mata karena kontroversi judul.
Dalam analisisnya mengenai perang nirmiliter, Amir menggunakan istilah “swallows” atau burung layang-layang dan “ravens” atau burung gagak sebagai metafora dalam operasi intelijen.

















































































































