Istilah swallow dan raven memang pernah digunakan dalam literatur mengenai praktik honey trap atau operasi yang memanfaatkan relasi personal dan seksual untuk mendapatkan akses atau informasi. Literatur CIA yang tersedia di arsip publik, misalnya, menyebut penggunaan istilah “swallows” dan “ravens” dalam konteks operasi intelijen Soviet.
Kata Amir, tidak menutup kemungkinan ada penyusupan swallow dan raven di sekitar Prabowo. “Ini yang harus diwaspadai,” ungkapnya
Amir juga mengaitkan analisisnya dengan pemikiran klasik strategi perang yang sering diasosiasikan dengan Sun Tzu.
Pesan utama strategi klasik tersebut adalah bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh kekuatan militer semata.
Informasi, persepsi, tipu daya dan kemampuan membaca lawan juga merupakan bagian penting dari strategi.
Dalam konteks kepemimpinan modern, prinsip itu dapat diterjemahkan menjadi kebutuhan bagi pemerintah untuk memiliki sistem pemeriksaan informasi yang kuat.
Presiden Prabowo tidak hanya perlu mengetahui apa yang terjadi di depan mata, tetapi juga siapa yang memproduksi informasi, siapa yang memperoleh manfaat dari sebuah narasi, serta bagaimana sebuah isu dapat dimanfaatkan oleh pihak lain.
Namun, prinsip tersebut tidak berarti setiap perbedaan pandangan harus dianggap sebagai operasi intelijen.
Justru kemampuan intelijen yang matang adalah membedakan antara ancaman nyata, kritik biasa, kesalahan komunikasi dan spekulasi.
Amir juga berpandangan bahwa NU harus tetap memberikan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo sepanjang dukungan itu ditempatkan dalam kerangka kepentingan bangsa.
Menurut dia, hubungan Presiden dengan organisasi Islam tidak seharusnya hanya dibangun melalui simbol atau pencitraan.
Hubungan tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan nyata yang menyentuh pendidikan, ekonomi umat, kesejahteraan pesantren, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia.
Dengan demikian, hubungan antara pemerintah dan organisasi Islam tidak mudah dipengaruhi oleh kontroversi satu buku atau satu judul.
Prabowo juga sebelumnya telah melakukan dialog langsung dengan ulama dan pimpinan organisasi Islam.
Pada Maret 2026, Presiden menggelar silaturahmi dengan ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan. Pertemuan tersebut membahas antara lain dinamika geopolitik global dan diplomasi Indonesia dalam mendorong perdamaian Timur Tengah.
Artinya, hubungan pemerintah dengan kelompok Islam secara faktual memiliki kanal komunikasi yang jauh lebih luas daripada satu buku.

















































































































