UPDATE

NASIONAL

Gibran Dikepung Isu Pemakzulan, Akankah Dasco Kembali Gelar Makan Siang Penyelamat?

“Publik melihatnya ini semacam makan siang plus-plus persisnya. Satu sisi hanya sebatas makan siang bersama, tapi sisi yang lainnya pastinya banyak hal yang dibicarakan, terutama soal kondisi politik terkini, salah satunya program populis pemerintah,” kata Adi kepada wartawan, Minggu (10/8/2025).

Adi juga menilai pertemuan tersebut memiliki pesan simbolis. Gibran mewakili eksekutif, sementara Dasco merupakan salah satu pimpinan legislatif.

“Apapun judulnya, Gibran adalah wapres mewakili unsur eksekutif. Dasco adalah pimpinan DPR merepresentasikan legislatif. Secara simbol ini menjadi penanda hubungan wapres (eksekutif) dan legislatif akur, isu soal pemakzulan wassalam,” ujarnya.

Bahkan, pertemuan itu sempat ditafsirkan sebagai sinyal bahwa hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih terjaga, di tengah berbagai spekulasi mengenai kerenggangan hubungan keduanya.

“Bahkan secara simbolik ada yang menafsirkan ini sebagai bentuk hubungan baik 08 (Prabowo) dengan Solo (Jokowi) yang belakangan ini kerap dispekulasikan rada renggang,” kata Adi.

Kini Gibran Menghadapi Ujian Politik Berbeda

Lebih dari setahun kemudian, konteks politiknya berubah.

Jika pada 2025 pertemuan Gibran-Dasco dibaca sebagai simbol harmonisasi eksekutif dan legislatif, kini pertemuan serupa berpotensi menjadi perhatian lebih besar karena berlangsung setelah putusan MA.

Belum lagi desakan Forum Purnawirawan TNI yang meminta DPR dan MPR memproses pemakzulan Gibran dari jabatan Wakil Presiden.

Hingga kini, DPR belum membahas usulan tersebut. Namun, kemunculan desakan pemakzulan bersamaan dengan polemik putusan MA membuat dinamika politik Gibran semakin menjadi perhatian.

Dalam situasi seperti ini, posisi Dasco menjadi menarik untuk dicermati.

Sebagai Wakil Ketua DPR dan Ketua Harian Partai Gerindra, Dasco memiliki posisi strategis dalam komunikasi politik di Senayan. Karena itu, pertemuannya dengan Gibran, jika kembali terjadi, hampir pasti akan menjadi perhatian publik.

Apakah hanya makan siang biasa? Ataukah ada komunikasi politik yang lebih luas mengenai perkembangan situasi nasional dan polemik yang tengah membelit Wakil Presiden?

Tentu, pertemuan dua tokoh tidak otomatis menjadi jaminan dukungan politik. Begitu pula, kedekatan simbolis antara eksekutif dan legislatif tidak serta-merta menentukan hasil proses pemakzulan yang memiliki mekanisme konstitusional tersendiri.

Namun, publik tentu masih ingat bagaimana makan siang pada 2025 pernah dimaknai sebagai pesan bahwa hubungan eksekutif dan legislatif tetap harmonis.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.