UPDATE

ISLAM
ISLAM

Cepatnya Laju Kereta, Secepat Bertambahnya Utang Negara

BOLEH bangga sejenak, kereta cepat Whoosh di Indonesia menjadi kereta tercepat di dunia sejak tahun 2023.

Dengan kecepatan 350 km/jam mengalahkan CR400 Fuxing di Tiongkok: 350 km/jam. Sejak Oktober 2023, sudah 3 tahun beroperasi, Whoosh telah melayani 18,2 juta penumpang.

Bangganya Sejenak, Sengsaranya 80 Tahun

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dibiayai dari utang mencapai sekitar Rp116 triliun hingga US$7,27 miliar, dengan mayoritas pinjaman berasal dari China Development Bank (CDB).

Mulai 15 September 2026, pengelolaan kewajiban dan utang proyek Whoosh resmi dialihkan ke Kementerian Keuangan melalui Badan Layanan Umum PT Sarana Multigria Finansial (SMF) setelah sebelumnya ditangani oleh Danantara dan konsorsium BUMN.

Restrukturisasi dan pengalihan pengelolaan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui kerja sama antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Badan Pengelola Investasi (Danantara).

Setelah restrukturisasi, jangka waktu pembayaran (tenor) menjadi 80 tahun, dengan cicilan Rp 1 triliun per tahun (IDNFinancials,9-9-2026).

Ini fakta, bangganya hanya sesaat namun rakyat Indonesia harus menanggung cicilan utang selama 80 tahun, bukan waktu yang sedikit juga bukan jumlah yang sedikit sebab ini utang berbasis riba.

Beban bunga diperkirakan sekitar Rp1,2 triliun hingga Rp2,12 triliun per tahun tergantung komponen bunga awal dan pinjaman tambahan cost overrun (dengan suku bunga awal sekitar 2 persen–3,3 persen).

Sudah bisa dibayangkan APBN kita semakin “ berdarah-darah” menanggung utang yang luar biasa, belum dengan belanja negara untuk beberapa proyek strategis seperti MBG bak anak emas, bahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjanjikan insentif hingga RP 1 triliun bagi daerah atau wilayah yang berhasil memajukan MBG.

Dana dari mana, jelas APBN. Pemerintah juga sudah ada wacana menambah jalur kereta cepat ini Jakarta-Surabaya.

Kita harus pahami, proyek raksasa ini bukan sekadar bagian dari pelayanan negara untuk mempermudah rakyatnya bertransportasi, dilihat dari pendeknya jarak yang selama ini masih bisa dilakukan dengan transportasi biasa seperti kereta api dan bus, ditambah dengan tiket yang lumayan mahal, kebanyakan masyarakat kelas menengah ke bawah akan berpikir ulang untuk menjadikannya transportasi harian. Pun macet tak pernah terurai dengan adanya kereta cepat Whoosh ini.

Proyek ambisius pemerintah ini jelas disetor oleh kepentingan politik, demi segelintir elit pemilik modal untuk meraih keuntungan.

Entah itu berhubungan dengan kebutuhan rakyat banyak atau tidak, yang jelas proyek prestisius ini telah mendatangkan profit tak sedikit bagi mereka.

Bagaimana Sistem Akomodasi Dalam Khilafah?

Rasulullah Saw. bersabda, “Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Posisi rakyat bukan obyek pajak, dimana pajak yang dipungut itu salah satunya untuk membayar utang berikut bunganya.

Sehingga pelayanan publik adalah salah satu hak rakyat dan kewajiban negara untuk menyelenggarakan secara murah dan berkualitas, pembiayaannya pun bukan dari pajak.

Dalam sistem Islam, ada istilah pajak (dharibah) namun hanya dipungut dari rakyat saat kas Baitulmal kosong, itu pun hanya dari laki-laki muslim yang kaya.

Ini karena pajak bukan sumber utama pemasukan.

Khalifah, melakukan pembangunan untuk kemaslahatan rakyat dan dilakukan dengan tulus untuk melayani rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi penguasa atau pihak swasta yang menjadi kroninya.

Dalam sistem Islam, pendapatan negara ada tiga pos utama yang disimpan di Baitulmal, yaitu pos kepemilikan umum( tambang, energi, minyak, gas bumi, kekayaan laut, hutan dan lainnya), pos kepemilikan negara ( kharaj, jizyah, khumus, dan lainnya) dan pos zakat (harta individu yang dipungut ketika haul dan nisabnya sudah terpenuhi).

Jika pun ada investasi, misal untuk infrastruktur akan dikelola negara secara amanah dan tidak melanggar hukum syara, semisal pengangkutan harian, menghubungkan kawasan produktif dan lainnya.

Setiap kerjasama dengan negara lain yang dilihat adalah status orangnya atau negaranya, jika ia kafir harbi Fi’lan (secara dhahir memusuhi nyata Islam dan kaum muslim) maka tidak ada kerjasama sama sekali.

Cina sendiri meski negara sosialis namun politik ekonominya kapitalisme, ia memasuki beberapa negara berkembang atas nama kemajuan, teknologi, industri dan perdagangan.

Salah satu yang dijajaki di Indonesia adalah proyek Whoosh dan bagian dari One Belt One Road (OBOR) yang diinisiasi Cina, melalui Konferensi KTT ke-2 Beltand Road Forum pada 25-27 April 2019.

Dihadiri tak kurang dari 37 negara di dunia, Indonesia penandatanganan pembiayaan proyek pembangunan yang dilakukan oleh wakil presiden Jusuf Kalla.

Sejak itu hubungan Cina-Indonesia bak ketergantungan, mantan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan yang kini menjabat ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) begitu memuja Cina, hingga mengatakan posisi Cina sangat strategis untuk kemajuan pembangunan di Indonesia jangka panjang.

Maka, kerjasama dengan Cina tak bisa dipisahkan dengan tujuan sejati negara yang berjuluk tirai bambu itu, yaitu invasi dagang di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Potensi Indonesia yang luar biasa menjadi daya tarik negara besar pengemban idiologi kapitalisme.

Dan hubungan yang paling mengikat agar kepentingan itu senantiasa terjaga adalah utang. Banyak negara sebelum Indonesia yang bertekuk lutut kepada Cina akibat jebakan mega utang.

Para pakar ekonomi pun sudah memperingatkan para pemangku kekuasaan di negeri ini, pemerintah tak bergeming.

Butuh Kemandirian Ekonomi, Itu Adalah Sistem Islam

Donald R. Hill dalam bukunya Islamic Technology: an Illustrated History” (University of Cambridge, 1992), membuat sebuah daftar panjang berbagai industri yang pernah ada dalam sejarah Islam.

Ada industri mesin, bahan bangunan, pesenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan hingga pertambangan dan metalurgi.

Ini adalah bukti Islam pernah menjadi pusat pengembangan sains, teknologi, dan industri. Bangkitnya dunia Barat saat ini tidak lepas dari peran dunia Islam di masa lalu.

Sayang generasi hari ini semakin tak mengenal kejayaan Islam saat memimpin dunia.

Sebab tingkat sekuler di negeri ini juga semakin akut.

Siapa saja yang berniat memahami agamanya secara mendalam pasti disebut teroris atau radikal.

Padahal, nampak jelas bagaimana ketika pemerintah melayani kebutuhan umat dengan prinsip sekuler.

Maka yang kita rasakan adalah penderitaan berkepanjangan, negara bukan hadir untuk rakyat tapi sibuk menjaga kepentingan para investor tetap aman, jadilah negara regulator kebijakan.

Rasulullah saw. mengutuk orang yang makan riba dan orang yang memberi makan dengan harta riba, hadis riwayat Muslim.

Ini adalah dalil jelas, bagaimana kesusahan mereka yang mengambil utang dengan riba.

Fakta ini bukan sekadar perbandingan, tapi panggilan keimanan, apakah hukum jahiliah yang lebih baik bagi kita ataukah aturan Allah Yang Maha Pemurah dan Bijaksana?

Wallahualam bissawab. 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.