BANDA ACEH – Nama Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution kembali mencuri perhatian setelah dipercaya menduduki jabatan Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri.
Daftar Isi
Mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto itu kini menyandang pangkat jenderal bintang dua, hanya sekitar setahun setelah memperoleh pangkat Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol).
Namun, perjalanan karier Ahrie tidak hanya menarik karena kenaikan pangkatnya yang tergolong cepat.
Perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2002 tersebut memiliki rekam jejak penugasan bersama dua tokoh penting dalam pemerintahan dan kepolisian, yakni Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Presiden Prabowo Subianto.
Sebelum masuk ke lingkungan Istana Kepresidenan, Ahrie merupakan sekretaris pribadi Listyo Sigit ketika menjabat Kapolri.
Hubungan kedinasan keduanya bahkan dapat ditelusuri lebih jauh, ketika Listyo masih memimpin Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
Kini, di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, karier Ahrie kembali menanjak.
Melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, Suyudi melakukan mutasi terhadap 88 perwira tinggi dan perwira menengah Polri.
Salah satu nama dalam daftar tersebut adalah Ahrie Sonta Nasution yang ditunjuk sebagai Kadivkum Polri menggantikan Irjen Pol Agus Nugroho.
Sebelumnya, Ahrie menjabat Penyelidik Pengamanan Internal Utama Tingkat II Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri dengan pangkat Brigjen Pol.
Promosi menjadi Kadivkum membawa Ahrie ke jenjang kepangkatan Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol).
Jejak Bersama Listyo Sigit dalam Penangkapan Djoko Tjandra
Hubungan kedinasan Ahrie dengan Listyo Sigit sudah terlihat sejak 2020.
Ketika itu, Listyo masih menjabat Kepala Bareskrim Polri dengan pangkat komisaris jenderal. Salah satu perkara besar yang ditanganinya adalah perburuan Djoko Soegiarto Tjandra, buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih atau cessie Bank Bali.
Djoko Tjandra akhirnya ditangkap di Malaysia pada 30 Juli 2020 setelah menjadi buronan selama sekitar 11 tahun.
Operasi tersebut dipimpin Listyo Sigit melalui tim khusus Bareskrim Polri yang bekerja sama dengan Kepolisian Diraja Malaysia.
Ahrie tercatat menjadi bagian dari tim yang terlibat dalam penangkapan tersebut.
Penugasan itu menjadi salah satu jejak awal hubungan kerja Ahrie dengan Listyo dalam penanganan perkara besar di lingkungan Bareskrim.
Setahun kemudian, hubungan kedinasan keduanya berlanjut ke lingkungan pimpinan tertinggi Polri.
Dipercaya Jadi Sekretaris Pribadi Kapolri
Pada 18 Februari 2021, tidak lama setelah Listyo Sigit dilantik sebagai Kapolri, Ahrie mendapat penugasan baru sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri pada Staf Pribadi Pimpinan (Spripim) Polri.
Saat itu, Ahrie masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan sebelumnya menjabat Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok.
Jabatan sekretaris pribadi menempatkannya dalam lingkungan kerja langsung Kapolri.
Ahrie bertugas membantu pelaksanaan agenda kedinasan dan berbagai kegiatan pimpinan Polri.
Posisi tersebut berbeda dari penugasan di tingkat kepolisian wilayah karena menuntut koordinasi secara langsung dengan pimpinan institusi.
Ia menjalankan tugas itu selama lebih dari tiga tahun.
Selama periode tersebut, Ahrie juga memperoleh kenaikan pangkat luar biasa dari AKBP menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) pada 2021.
Kepercayaan untuk menjadi sekretaris pribadi Listyo menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan karier Ahrie sebelum namanya masuk dalam seleksi ajudan presiden.
Dari Lingkar Kapolri ke Istana Prabowo
Babak baru karier Ahrie dimulai pada Oktober 2024.
Setelah Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Ahrie terpilih sebagai ajudan presiden dari unsur Polri.
Penunjukannya dikonfirmasi langsung oleh Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
Sebelum terpilih, Ahrie mengikuti proses seleksi yang melibatkan sejumlah perwira kepolisian untuk mengisi posisi ajudan presiden.
Dari sekretaris pribadi Kapolri, Ahrie kemudian menjalankan penugasan di lingkungan Istana Kepresidenan.
Penunjukan tersebut memperluas pengalaman kedinasannya. Setelah lebih dari tiga tahun mendampingi pimpinan Polri, ia dipercaya menjalankan tugas yang berkaitan langsung dengan kegiatan Presiden Prabowo.
Ahrie menjadi salah satu dari empat ajudan presiden yang berasal dari unsur TNI dan Polri.
Kariernya kembali mengalami perkembangan pada Oktober 2025.
Dalam upacara kenaikan pangkat perwira tinggi Polri, Ahrie memperoleh pangkat Brigadir Jenderal Polisi.
Ia resmi menyandang satu bintang pada usia 44 tahun, sekaligus menjadi salah satu lulusan Akpol 2002 yang lebih awal mencapai jenjang jenderal.
Kenaikan pangkat tersebut terjadi ketika Ahrie masih dikenal publik sebagai perwira yang pernah menjadi sekretaris pribadi Listyo Sigit dan ajudan Presiden Prabowo.
Kini Jadi Jenderal Bintang Dua di Era Suyudi
Sekitar setahun setelah memperoleh pangkat Brigjen Pol, Ahrie kembali mendapat promosi.
Kali ini, keputusan datang melalui mutasi yang dilakukan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto pada Oktober 2026.
Ahrie ditunjuk menjadi Kepala Divisi Hukum Polri, jabatan yang sebelumnya diduduki Irjen Pol Agus Nugroho.
Penugasan tersebut membawa Ahrie menyandang pangkat jenderal bintang dua pada usia 45 tahun.
Dalam rentang sekitar satu tahun, pangkatnya meningkat dari Komisaris Besar Polisi menjadi Brigadir Jenderal Polisi, kemudian Inspektur Jenderal Polisi.
Perjalanan itu menempatkan Ahrie dalam jajaran perwira tinggi Polri yang menduduki jabatan strategis di Mabes Polri.
Sebagai Kadivkum, ia memimpin fungsi hukum di lingkungan kepolisian, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan regulasi, bantuan hukum, dan pendampingan hukum institusi.
Pada Oktober 2026, Ahrie telah menjalankan kegiatan kedinasan sebagai Kadivkum, termasuk menghadiri Forum Nasional Pembangunan Hukum yang membahas harmonisasi regulasi dan penguatan tata kelola hukum nasional.
Polisi Pertama Peraih Doktor Ilmu Kepolisian
Di luar perjalanan kariernya, Ahrie juga memiliki catatan akademik yang menonjol.
Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, pada 2 April 1981 itu merupakan lulusan Akpol 2002 dari Batalyon Wicaksana Laghawa.
Ia melanjutkan pendidikan kepolisian hingga jenjang doktoral.
Pada 7 Juni 2018, ketika masih berpangkat Komisaris Polisi (Kompol), Ahrie menjalani sidang doktoral di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan.
Ia tercatat sebagai polisi pertama yang memperoleh gelar doktor dalam bidang Ilmu Kepolisian.
Dalam disertasinya, Ahrie mengangkat persoalan reformasi budaya kepolisian, terutama pada tingkat kepolisian resor yang berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat.
Pendidikan Ahrie juga tidak terbatas di Indonesia.
Ia pernah menjalani pendidikan dan pelatihan di Politieacademie Apeldoorn, Belanda, serta mengikuti pelatihan analisis kejahatan di Münster, Jerman.
Pengalaman pendidikan internasionalnya berlanjut melalui Joint Special Operation University di Amerika Serikat dan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Ahrie juga menyelesaikan pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri pada 2024.
Sebelum bertugas di lingkungan pimpinan Polri dan Istana, ia pernah menangani perkara narkotika di Polda Metro Jaya, menjadi Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, serta terlibat dalam Operasi Nemangkawi di Papua.
Kini, perjalanan karier tersebut membawanya ke pucuk pimpinan Divisi Hukum Polri.
Dari operasi penangkapan Djoko Tjandra bersama tim Listyo Sigit, menjadi sekretaris pribadi Kapolri, kemudian ajudan Presiden Prabowo, Ahrie melanjutkan kariernya sebagai jenderal bintang dua pada masa kepemimpinan Kapolri Suyudi Ario Seto.


















































































































Komentar Terbaru