BANDA ACEH – Dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto memunculkan spekulasi serius mengenai kemungkinan adanya operasi Politik dari dalam lingkaran kekuasaan.
Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Sri Radjasa Chandra, menduga kasus tersebut berkaitan dengan apa yang disebutnya sebagai operasi Garis Dalam, yang menurut analisisnya bertujuan mempertahankan pengaruh politik di tengah pemerintahan Presiden Prabowo.
Dalam analisisnya, Sri Radjasa mengaitkan dugaan operasi tersebut dengan keberadaan jaringan pejabat yang disebut sebagai Geng Solo, yang dikaitkannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia menilai jaringan tersebut merupakan bagian dari strategi politik dan perang informasi untuk menjaga pengaruh di lingkungan pemerintahan.
Pernyataan itu disampaikan Sri Radjasa dalam wawancara di program Bikin Terang yang ditayangkan melalui kanal YouTube.
“Hati-hati Mbak, Jokowi ini sedang melakukan operasi garis dalam,” ujar Sri Radjasa dikutip Minggu (8/11/2026).
Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik politik. Sri Radjasa bahkan menguraikan empat strategi yang menurutnya menjadi bagian dari dugaan operasi Garis Dalam.
Pertama, mempertahankan jaringan pejabat yang disebut sebagai Geng Solo, yang menurutnya berasal dari kalangan kepolisian dan militer.
Kedua, memobilisasi relawan dan organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat dukungan politik.
Ketiga, membangun aliansi dengan kelompok buruh, pemuda, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Keempat, menyiapkan strategi perang informasi yang menurutnya mencakup aktivitas penyadapan.
Dari empat strategi tersebut, dugaan penyadapan menjadi bagian yang paling serius disorot. Sri Radjasa menghubungkan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo dengan strategi perang informasi yang disebutnya sedang berlangsung.
Bahkan, ia secara terbuka melontarkan tudingan bahwa Jokowi diduga menjadi pihak yang menggunakan hasil penyadapan tersebut.
“Jadi kalau kita lihat sekarang ini terbongkarnya terjadi penyadapan yang dilakukan oleh Listyo Sigit, saya punya keyakinan dan saya berani bertaruh penggunanya adalah Jokowi,” tegasnya.
Tudingan tersebut merupakan klaim pribadi Sri Radjasa. Hingga kini, belum ada bukti independen yang memastikan Jokowi menjadi pengguna hasil penyadapan sebagaimana dituduhkan.
Tak berhenti pada dugaan keterlibatan jaringan politik, Sri Radjasa juga menyinggung keberadaan seorang advokat berinisial MR yang menurut klaimnya berada di lokasi penggerebekan sebuah rumah di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan.


















































































































Komentar Terbaru