“Rokok produksi lokal ini dijual dengan harga terjangkau, ini bisa mencegah dan meminimalisir beredarnya rokok ilegal yang sangat merugikan negara” ungkap Fuadi, Jum’at (22/7/2022) di Banda Aceh.
Senada dengan Sri Waluyo, Fuadi juga berharap media lebih sering mengekspos tentang rokok dan cerutu Gayo ini supaya produk lokal ini semakin dikenal oleh masyarakat dan jangkauan pemasarannya makin luas, baik di dalam maupun diluar Aceh.
“Beberapa produk rokok dari Aceh dan Gayo ini sudah mulai menembus pasar di Bandung, Cilacap, Lampung dan Padang, tapi ironisnya di Aceh sendiri masih belum banyak yang mengenalnya, itulah sebabnya perlu bantuan rekan-rekan media untuk membantu publikasinya, agar produk ini lebih dikenal dan jangkauan pasarnya bisa diperluas” sambungnya.
Dari data statistik pertanian tahun 2022, luas areal pertanaman tembakau di kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2022 adalah seluas 185 hektar dengan produksi 900 ton. Sekitar 40 persen produksi tembakau tersebut, saat ini terserap oleh industri rokok dan cerutu di daerah ini, selebihnya dipasarkan dalam bentuk olahan tembakau rajang baik berupa tembakau hijau maupun tembakau kuning.[]


















































































































Komentar Terbaru