MEULABOH – Kelakuan istri pimpinan ponpes di Aceh Barat terus dikuliti. Ternyata total ada lima santri yang kena oles adonan cabai hasil racikan istri pimpinan ponpes di Aceh Barat itu.
Empat santri kena oles adonan cabai di mulut dan satu satri lagi yang kisahnya viral, M (15) kena oles adonan cabai di badan hingga rambutnya digunduli.
Fakta baru ini keluar dari mulut ibu korban M (15), Marnita Pante.
Seperti diketahui, M disiram air cabai oleh istri pimpinan pesantren di Aceh.
M yang disiram pakai air cabai pun menjerit kepanasan sampai memasukkan tubuhnya ke bak mandi.
Terkini, sang ibu mengungkap kondisi anaknya yang kini trauma.
“Kejadian ini membuat anak saya menjadi trauma akibat dugaan kekerasan yang dilakukan oleh NN istri dari pimpinan Pesantren tersebut, “ kata Marnita ibu M, dilansir Tribun-medan.com, Jumat (4/10/2024).
Akibat penyiraman air cabai yang diduga dilakukan oleh NN, korban mengalami rasa panas dan kesakitan di tubuhnya.
Keluarga kemudian menjemput korban untuk dirawat oleh neneknya.
Marnita juga mendapatkan cerita dari sang anak, sebetulnya ada 4 santri lainnya yang juga menerima hukuman.
Namun, mereka tidak digunduli dan hanya diolesi cabai di bagian mulut.
“Dicukur rambut dia (hanya korban) seorang diri, dan diolesi cabai di mulut dan di badan.”
“Ada 4 santri yang kena (hukuman) hanya sebatas diolesi cabai di bibir saja, mereka tidak dicukur rambut karena tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang anak saya lakukan,” urai Marnita.
Sebelumnya viral di media sosial, video seorang santri di Aceh Barat merintih kesakitan lantaran disiram air cabai.
Santri ini mengalami penyiksaan berupa penyiraman air cabai dan pencukuran rambut sebagai bentuk hukuman karena ketahuan merokok.
Akibat kejadian tersebut Teuku mengalami bengkak-bengkak di bagian tubuh akibat disiram dengan air cabai dan kini dirawat di rumah neneknya.
Sebelumnya Marnita Pante juga mengungkap kekejaman istri pimpinan Ponpes tersebut.
Sang ibu M mengakui anaknya dihukum karena melanggar larangan ponpes soal merokok.
Namun demikian, hukuman biasanya berupa mencukur rambut santri, tidak sampai disiram air cabai.
“Memang ada hukuman, tapi (biasanya) hanya sebatas dicukur rambutnya. Bukan mengolesi cabai di mulut dan di badannya,” ujarnya dikutip dari Tribunnews, Jumat (4/10/2024).
Marnita melanjutkan ceritanya, ia pertama kali mengetahui anaknya disiram air capai saat korban pulang ke rumah dengan kondisi menangis.
“Dia berlari di jalan sambil nangis, teriak bahwa badannya terasa perih karena diolesi cabai oleh uminya (pelaku, red),” lanjutnya.


















































































































Komentar Terbaru