UPDATE

Salam.life
NASIONAL
NASIONAL

Menerka Langkah PDIP usai Kandang Banteng Direbut

Kombinasi “cawe-cawe” Jokowi dan mesin politik KIM Plus pun akhirnya mengobrak-abrik kandang banteng.

Mengapa PDIP Tumbang di Kandang Sendiri?

Berdasarkan analisis Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Khoirul Umam, ada sejumlah faktor yang memicu tumbangnya PDIP di Jateng. Pertama, dominasi mesin politik koalisi pengusung Lutfi-Taj Yasin (sekitar 75%) yang diperkuat oleh endorsement Jokowi-Prabowo memberikan pesan kuat kepada berbagai kalangan, termasuk donor-donor logistik, untuk all out memenangkan Luthfi-Yasin.

“Jaringan Jokowi juga all out and at all cost karena hasil Pilkada Jateng menjadi pertaruhan nasib dan pride bagi Jokowi dan keluarganya yang harus berhadap-hadapan dengan kekuatan PDIP yang selama ini terkuat,” kata Umam.

Kedua, karakter pemilih Jateng di pantai utara Jawa (pantura) didominasi santri yang cenderung mendukung kandidat nasionalis-santri yang tercermin pada duet Lutfi-Yasin. Taj Yasin Maimoen, putra kiai karismatik almarhum Maimoen Zubair asal Rembang, merupakan salah satu Ketua GP Ansor Jateng. Ia lekat dengan NU, dan merupakan Wagub Jateng 2018–2023 yang mendampingi Ganjar Pranowo.

Profil Yasin sebagai representasi kalangan religius yang terasosiasi kuat dengan Nahdlatul Ulama membuat jaringan NU all out mendukung Luthfi-Yasin. Situasi berbeda terlihat pada duet Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang sama-sama merepresentasikan corak nasionalis.

Ketiga, terbatasnya waktu sosialisasi di masa kampanye membuat calon PDIP kesulitan melakukan penetrasi ke segmen santri. Kelemahan ini dimanfaatkan dengan baik oleh KIM Plus maupun Jokowi yang getol turun gunung untuk mendongkrak elektabilitas Luthfi.

Jokowi misalnya menghadiri kampanye Luthfi di Purwokerto pada 16 November. Ia bersama Luthfi-Yasin juga naik jip untuk membagi-bagikan kaus. Sementara Prabowo membuat video ajakan mendukung Luthfi—yang menuai polemik karena sang Presiden diharapkan netral meski ia juga Ketua Umum Gerindra.

Sejumlah sumber di kalangan parpol mengatakan, hasrat cawe-cawe Jokowi pada berbagai pilkada sangat dahsyat meski ia tak lagi menjabat. Sepanjang Pilkada 2024, Jokowi disebut telah memanggil 80 calon kepala daerah ke Solo untuk di-endorse sembari menyisipkan kata-kata “Saya titip … (menyebut kabupaten/kota tempat calon tersebut maju).”

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai bahwa Jokowi bukan faktor utama dalam keberhasilan Luthfi memenangi takhta Jateng. Menurutnya, sosialisasi diri Luthfi selama empat tahun menjadi Kapolda hingga kekuatan mesin partai-partai KIM Plus merupakan variabel yang lebih penting.

image_print
1 2 3 4 5 6
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.