UPDATE

OPINI
OPINI

Lepas dari Jokowi, Semua Happy

Di sisi lain, kekuatan Jokowi secara bertahap “dipreteli” satu persatu. Jaksa Agung “puter balik” dan tak lagi berada di tangan Jokowi. Sebentar lagi akan ada restrukturisasi di tubuh Polri dan TNI. KPK terus mendapatkan tekanan untuk bersikap profesional. 

Di sisi lain, Prabowo sudah memberi sinyal akan adanya resuffle kabinet. Siapa saja yang akan diresuffle? Dalam resuffle kabinet, pertimbangan Politik biasanya lebih dominan dari pada kebutuhan akan profesionalitas. 

Setelah pergantian Kapolri, Panglima TNI dan para menteri, nyaris kekuatan Jokowi memudar.

Sebelum resuffle terjadi, akan sangat strategis jika Jokowi melangkah lebih cepat dengan meyakinkan kepada publik bahwa ia akan bersikap netral dan tidak melakukan intervensi kekuasaan. 

Ini penting untuk berdamai dengan kedamaian dan ketenangan hidup, serta menjauhkan suasana konflik yang tidak perlu diperpanjang. 

Bicara tentang kesalahan, mana ada presiden yang tidak bersalah? Secara hukum, salah tetap salah dan harus bertanggung jawab. Idealnya memang seperti itu. Tapi, politik Indonesia punya kelaziman yang seringkali melampaui hukum. Suka tidak suka, itulah fakta sejarahnya.

Kenapa tuntutan kepada Jokowi lebih kencang dari pada kasus BLBI dan Bank Century misalnya? Di antara pemicunya adalah pilihan “strategi konflik” yang selama ini telah mewarnai jalan kekuasaan Jokowi. 

Strategi konflik beroperasi sejak tahun 2016, jelang Pilgub DKI Jakarta. Plus dugaan politik dinasti yang membuat banyak pihak masih terus merasa khawatir.

Keributan ini akan mereda, setidaknya berkurang intensitasnya, jika Jokowi berhasil meyakinkan rakyat bahwa ia tidak lagi berpolitik praktis. 

Langkah pertama, tunjukkan ijazah asli dan cabut tuntutan kepada mereka yang selama ini menuntut. Kedua, hindari pertemuan politis yang memicu prasangka adanya intervensi. Ketiga, hindari narasi yang bisa dipersepsi sebagai bentuk permusuhan.

Dengan menghindari urusan politik praktis, Jokowi bisa hudup tenang, menikmati hasil kerjanya selama tujuh tahun di Solo, dua tahun di Jakarta dan 10 tahun memimpin Indonesia. Jokowi perlu belajar menjadi bapak bangsa dengan menghindari segala bentuk konflik berbau politik.

Terhadap anak-anak dan menantu, Jokowi perlu memberikan ruang agar mereka mandiri dan mematangkan dirinya sendirinya. Sudah waktunya melepas mereka. 

Mereka harus diperlakukan sebagai politisi dewasa untuk menghadapi segala risiko politiknya sendiri. Disinilah akan ada proses kematangan pada mereka.

Dengan absennya Jokowi dari dunia politik akan membuat semua happy. Jokowi dan keluarga happy. Prabowo dan para pedukungnya happy. Begitu juga dengan rakyat Indonesia. Semua happy.

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.