Ia justru mengklaim menang secara hukum setelah status tersangkanya dihentikan.
“Saya bebas. Saya enggak tersangka. Itu kemenangan buat saya,” ujarnya.
Namun satu hal yang ia sesalkan, mengapa dirinya yang terus diserang, bukan langsung pihak yang dituduh.
“Kenapa gue yang diserang? Kenapa enggak Jokowi terus?” katanya.
Kasus ini pun menandai retaknya hubungan Eggi dengan sejumlah tokoh yang dulu berada dalam barisan perjuangan yang sama.
Kini, ia memilih jalur hukum sebagai pembuktian, sembari menegaskan bahwa kehormatan dan harga diri bukan sesuatu yang bisa diinjak tanpa konsekuensi.
Eggi juga membongkar borok di internal Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) yang kini telah berantakan.
Ia menduga ada ambisi pribadi di balik serangan rekan-rekannya tersebut.
Eggi mencium adanya keinginan dari pihak tertentu untuk merebut posisi pemimpin.
“Dia (Khoizinudin) pernah saya dengar dari orang, ‘Ya Bang Eggi jangan jadi pemimpin terus dong. Sekali-sekali harus gue jadi imam, dia jadi makmum.’ Berarti dia kepengin tampil,” beber Eggi.
Mengenai SP3 yang didapatnya, Eggi menolak disebut sebagai produk lobi-lobi haram.
Ia menegaskan kepulangannya dari Solo dengan status bebas adalah murni perjuangan hukum dan kehendak Tuhan.
Eggi menantang pihak-pihak yang menyerangnya untuk berani datang langsung ke Solo jika merasa hebat, bukan justru menyerang sesama pejuang.
“Gue nanggung beban orang tadi, mereka maki Jokowi tapi larinya ke gue. Enggak fair! Saya minta hak saya sebagai advokat tidak boleh ditersangkakan, itu dikabulin. Itu menang buat gue!” pungkasnya.
Pertemuan dengan Jokowi
Eggi Sudjana juga membuka semua detail pertemuannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kediaman pribadi Jokowi di Solo pada 8 Januari lalu.
Di mana dari pertemuan itu, kemudian berujung pada terbitnya SP3 bagi dirinya dan Damai Hari Lubis, yang sebelumnya menjadi tersangka kasus terkait tudingan ijazah palsu Jokowi.
Pengakuan itu disampaikan panjang lebar oleh Eggi Sudjaana, dalam podcast YouTube Forum Keadilan TV bersama host Margi Syarif, Sabtu (14/2/2026).
Dalam pernyataan terbarunya, Eggi mengungkap berbagai fakta mengejutkan, mulai dari syarat ketat yang ia ajukan hingga dialog emosional mengenai kesehatan dan masa depan mereka.
Eggi menegaskan pertemuan terjadi berdasarkan dua syarat tegas yang ia ajukan: dia tidak akan meminta maaf, dan pertemuan tidak boleh dipublikasikan atau rahasia.
Kedua syarat itu, menurut Eggi, disepakati sebelum pertemuan — tetapi malam harinya berita soal pertemuan tetap tersebar.



















































































































Komentar Terbaru