UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Sampah Banda Aceh Capai 250 Ton per Hari, Warga Diajak Ubah Cara Pandang Lewat WCP

BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengajak seluruh elemen masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah melalui pelaksanaan Waste Collecting Point (WCP) sebagai langkah membangun budaya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.

Ajakan tersebut disampaikan Illiza saat membuka Sosialisasi Pelaksanaan Waste Collecting Point (WCP) Tahun 2026 di Aula Lantai IV Gedung A Mawardy Nurdin, Balai Kota Banda Aceh, Rabu (15/7/2026).

Menurut Illiza, persoalan sampah tidak lagi hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi telah menjadi tantangan pembangunan perkotaan yang harus ditangani secara bersama-sama. Dengan jumlah penduduk Banda Aceh yang mencapai 269.552 jiwa, produksi sampah harian saat ini berkisar 249 hingga 250 ton.

“Paradigma kita harus berubah. Sampah tidak boleh lagi dipandang sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang. Sampah harus dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi maupun nilai lingkungan apabila dikelola dengan baik melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R),” kata Illiza, dikutip Kamis (16/7/2026).

Ia mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat komitmen mewujudkan kota yang bersih, sehat, hijau, dan berkelanjutan melalui Program ASRI (Aksi Solutif untuk Ramah Lingkungan). Salah satu implementasinya ialah menghadirkan Waste Collecting Point sebagai sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dimulai dari rumah tangga hingga tingkat gampong.

Menurut Illiza, WCP tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi sarana membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari sumbernya.

Dengan sistem tersebut, volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) diharapkan berkurang, tingkat daur ulang meningkat, lingkungan menjadi lebih sehat, serta sampah memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Yang lebih penting lagi, WCP akan menumbuhkan budaya peduli lingkungan yang dimulai dari rumah, kemudian berkembang ke tingkat dusun, gampong, hingga seluruh Kota Banda Aceh,” ujarnya.

Illiza menegaskan keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, aparatur gampong, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, hingga tokoh agama.

Ia juga mengapresiasi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Banda Aceh yang menginisiasi pelaksanaan WCP dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai pengelola.

Menurut Illiza, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan memilah sampah di lingkungan keluarga sekaligus menjadi agen edukasi bagi masyarakat sekitar.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.