MEDAN — Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Founder sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Nurhabli Ridwan yang juga merupakan Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, melaksanakan rangkaian kegiatan bertajuk Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026.
Daftar Isi
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke pusat edukasi dan panen madu murni Gold Nectar di Sukses Serasi Nusantara (SSNGlobal), Jalan Pembangunan No. 12C, Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, dan dilanjutkan dengan aksi donor darah di Kantor Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Kota Medan, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen GRAS dalam mengampanyekan konservasi alam melalui pendekatan yang lebih luas.
Konservasi tidak hanya dimaknai sebagai upaya melindungi hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai gerakan membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan kualitas kesehatan, serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Belajar Budi Daya Lebah Trigona Tanpa Sengat
Dalam kunjungannya ke SSNGlobal, Nurhabli Ridwan mempelajari secara langsung proses budi daya lebah trigona tanpa sengat (stingless bee), mulai dari teknik pemeliharaan koloni, proses panen nektar, hingga pengolahan dan pengemasan produk secara higienis.
Edukasi tersebut memberikan pemahaman mengenai peran penting lebah sebagai penyerbuk alami yang berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistem, produktivitas pertanian, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Selain mengenal proses budi dayanya, Nurhabli Ridwan juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai keunggulan Gold Nectar yang dihasilkan dari varian stingless bee pilihan.
Menurut pihak SSNGlobal, produk tersebut diproses secara alami dan higienis mulai dari tahap produksi hingga pengemasan untuk menjaga kualitas dan kemurniannya.
Gold Nectar memiliki cita rasa khas berupa perpaduan rasa asam dan manis dengan tekstur yang lebih encer dibandingkan madu pada umumnya, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Produk ini juga mengusung konsep 3 in 1, yakni memadukan nektar, propolis, dan bee pollen dalam satu botol.
Untuk menjaga kualitas, proses panen dilakukan minimal setiap 45 hari sehingga menghasilkan nektar yang lebih matang.
Produk ini diproses tanpa pemanasan, tanpa penambahan air gula, tanpa campuran bahan kimia, maupun bahan tambahan lainnya, sehingga kemurniannya tetap terjaga.
Pihak SSNGlobal turut menjelaskan bahwa nektar yang dihasilkan mengandung propolis dengan kandungan antioksidan yang diklaim lebih tinggi dibandingkan madu dari lebah bersengat.
Kualitas produk juga dijaga melalui pengendalian suhu ruangan secara konsisten sejak proses panen, penyimpanan, hingga pengemasan, agar mutu Gold Nectar tetap terpelihara sampai diterima konsumen.
Konservasi Sebagai Gerakan Menjaga Rantai Kehidupan
Founder GRAS, Nurhabli Ridwan, menyampaikan bahwa edukasi mengenai lebah tanpa sengat merupakan bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang hubungan erat antara konservasi alam dan keberlanjutan kehidupan.
“Konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjaga seluruh rantai kehidupan yang ada di dalamnya.
Lebah memiliki peran yang sangat besar sebagai penyerbuk alami yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketika habitatnya terlindungi, produktivitas pertanian, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan juga akan tetap terjaga.
Edukasi seperti ini penting agar semakin banyak masyarakat memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan,” ujar Nurhabli Ridwan.
Lanjutkan dengan Aksi Donor Darah
Usai mengikuti kegiatan edukasi dan panen madu, rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 dilanjutkan dengan aksi donor darah di Kantor UDD PMI Kota Medan.
Aksi tersebut menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama manusia.
Menurut Nurhabli Ridwan, donor darah merupakan bentuk aksi kemanusiaan yang sederhana namun memiliki manfaat besar, karena dapat membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien yang membutuhkan.
Ia berharap semakin banyak generasi muda terlibat dalam kegiatan sosial sekaligus aktif mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Semangat konservasi harus melahirkan kepedulian yang utuh. Kita menjaga alam agar kehidupan tetap berlangsung, dan kita mendonorkan darah untuk membantu menyelamatkan kehidupan manusia. Keduanya merupakan bentuk pengabdian yang sama-sama bernilai bagi masa depan. Saya berharap momentum Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk peduli terhadap lingkungan sekaligus aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan,” tambahnya.
Konservasi sebagai Gerakan Multidimensi
Melalui rangkaian kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 ini, GRAS berharap dapat mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memaknai konservasi sebagai gerakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan, gaya hidup sehat, serta aksi kemanusiaan merupakan bagian yang saling melengkapi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, GRAS akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi kemanusiaan, dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi, konservasi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Momentum Hari Konservasi Alam Nasional 2026 diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi melalui aksi nyata, demi mewujudkan Indonesia yang hijau, sehat, tangguh, dan berkelanjutan.



















































































































Komentar Terbaru