Dalam pengamatannya, Haeqal juga melihat bagaimana Jepang menjaga kualitas produk dalam negeri dengan ketat, di mana produk terbaik mereka, terutama bahan pangan seperti daging, diprioritaskan untuk konsumsi dalam negeri.
“Jika kita ingin mencicipi daging terbaik, kita harus makan di Jepang. Mereka benar-benar menjaga kualitas produk dalam negeri, sebuah bentuk patriotisme yang patut dicontoh. Jepang mungkin memiliki sejarah sebagai bangsa penjajah, tetapi mereka sangat kompak dalam menjaga standar hidup masyarakatnya. Ini hal yang menurut saya patut menjadi contoh bagi kita,” paparnya.
Ahmad Haeqal menyampaikan harapannya agar nilai-nilai positif yang ia lihat di Jepang, seperti kedisiplinan, kecintaan terhadap lingkungan, dan sikap tanggap bencana, bisa ditanamkan di Indonesia, khususnya Aceh.
Menurutnya, Aceh sebagai wilayah yang rawan bencana dapat mengadopsi pola-pola kesiapsiagaan dan pembinaan karakter yang sudah lama diterapkan di Jepang.
“Budaya cinta tanah air, kedisiplinan, dan kesiapsiagaan yang saya lihat di Jepang adalah contoh nyata bahwa pembangunan karakter harus dilakukan secara menyeluruh sejak dini. Di Aceh, kita harus mulai menanamkan kecintaan terhadap negeri kita dan menjadikannya bagian dari pendidikan anak-anak. Dengan begitu, mereka akan memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan dan berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh,” tutupnya.[]






























































































Beri Komentar