Karena tidak mengetahui nama itu, Rofika diseret ke luar rumah dan dipukuli. Puluhan prajurit TNI kemudian membawa Rofika ke markas Armed 2/105. Untungnya, dia lalu disuruh pergi.
Akibat kejadian itu, Rofika mengalami sejumlah luka, termasuk luka di bagian kepala serta memar di tangan dan punggung.
Ada pula warga lain yang mengalami luka sobek di kepala. Kondisi itu membuat korban masih dalam perawatan intensif rumah sakit.
Karena tidak terima dengan penyerangan tersebut, warga Desa Selamat, Deli Serdang membawa jenazah Raden yang sudah diautopsi ke markas Armed-2 sebagai bentuk protes.
Kapendam: 33 anggota TNI terlibat
Kepala Penerangan Kodam I Bukit Barisan, Kolonel Dody Yudha menyatakan ada 33 prajurit TNI Batalyon Artileri Medan (Armed) 2/105 Kilap Sumagan yang diduga terlibat penyerangan.
Sementara itu, Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan Letjen Mochammad Hasan memohon maaf atas penyerangan yang dilakukan anak buahnya ke warga di Desa Selamat, Deli Serdang.
Menurut Hasan, pihaknya sudah memproses hukum permasalahan ini. Dia memastikan kejadian ini tidak terulang lagi dan para pelaku akan mendapat sanksi sesuai aturan berlaku.
“Bersama keluarga besar Bukit Barisan, kami memohon maaf sebesar-besarnya. Kalaupun saya harus menggantikan almarhum, saya siap melakukan itu sekarang. Saya ikhlas,” kata Hasan.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Hariyanto mengatakan, 33 prajurit TNI yang melakukan ke warga Desa Selamat akan ditangani Pangdam 1/Bukit Barisan.
“(Pangdam I/BB) Berjanji untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Beberapa prajurit saat ini sedang dalam pengusutan Danpomdam 1/BB,” terangnya, dlansir dari Kompas.com, Senin.
Mabes TNI pun akan terus mengawal proses pengusutan kasus serangan 33 prajurit TNI ke warga di Desa Selamat, Deli Serdang.


















































































































Komentar Terbaru