UPDATE

OPINI
OPINI

Grafiti ‘Adili Jokowi’ Marak di Berbagai Kota, Tidak Perlu Ada yang Kebakaran Jenggot

Sebenarnya soal Graffiti “Adili Jokowi” ini tidak perlu ada yang kebakaran jenggot hingga pikiran katrok yang masih saja menuduh gerakan ini ada kaitannya dengan kekalahan pilpres tahun 2024 lalu, karena orang yang berpikiran begitu pasti otaknya dihantui oleh kesalahannya sendiri. 

Sebab Graffiti telah ada sejak zaman kuno dan mengalami perkembangan seiring waktu, bahkan sejak Zaman Prasejarah. 

Graffiti pertama kali muncul dalam bentuk lukisan gua yang dibuat oleh manusia purba. 

Contohnya adalah lukisan di Gua Lascaux (Prancis) dan Altamira (Spanyol) yang berusia sekitar 17.000 tahun. 

Lukisan ini menggunakan pigmen alami untuk menggambarkan hewan, manusia, dan simbol misterius. 

Di Indonesia hal sejenis terdapat di Gua Leang-leang di Sulawesi Selatan. 

Fungsinya bisa sebagai ritual spiritual, komunikasi, atau penanda perburuan.

Selanjutnya di Zaman Romawi & Yunani Kuno Graffiti banyak ditemukan di dinding kota, kuil, dan tempat umum. 

Biasanya berupa coretan Politik, sindiran sosial, atau ekspresi pribadi. 

Contoh terkenal ditemukan di Pompeii, Kota Romawi yang tertutup abu vulkanik dari letusan Gunung Vesuvius tahun 79 M yang berisi protes politik, humor kasar, dan bahkan iklan. 

Saat masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia di tahun 1945-1949 pun Graffiti digunakan sebagai media perlawanan terhadap penjajah, baik Jepang, maupun Belanda dan Sekutu yang mau menjajah kembali. 

Saat itu para pemuda Indonesia sering menuliskan slogan-slogan di tembok dan gerbong kereta, seperti: “Merdeka atau Mati!”, “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!” dsb.

Graffiti telah berkembang dari lukisan gua hingga menjadi alat komunikasi sosial dan politik. 

Hingga kini, grafiti tetap digunakan sebagai media ekspresi, protes, atau seni jalanan di berbagai belahan dunia bahkan dihubungkan dengan teknologi komputer seperti kalimat “404-Not Found”.  

Padahal aslinya “404 Not Found” adalah kode status HTTP yang menandakan bahwa halaman atau sumber daya yang dicari di sebuah website tidak ditemukan di server. 

Istilah ini pertama kali digunakan dalam protokol HTTP pada 1992 oleh Tim Berners-Lee, pencipta World Wide Web. 

Angka 404 berasal dari standar kode status HTTP yang ditetapkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF).

Di Indonesia uniknya Graffiti yang menggambarkan wajah yang disebut mirip Jokowi dengan tulisan “404 Not Found” sempat viral di Indonesia sebagai bentuk kritik sosial dan politik. 

Muncul sekitar tahun 2021 sebagai Graffiti besar di salah satu Kolong Flyover di seputaran Batuceper, Tangerang, “404 Not Found” dalam konteks ini digunakan sebagai simbol kritik terhadap kepemimpinan Jokowi yang menunjukkan bahwa kebijakan atau kepemimpinan yang diharapkan tidak ditemukan. 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.