UPDATE

OPINI
OPINI

Pendidikan Kapitalis, Generasi Minus!

Dalam sistem kapitalisme, pendidikan hanyalah alat produksi SDM yang siap pakai. Sekolah dan kampus didorong untuk mencetak lulusan yang bisa memenuhi kebutuhan industri dan pasar kerja. Maka yang diburu adalah kompetensi teknis, bukan moralitas. Kecerdasan diukur dari angka, bukan dari kejujuran atau tanggung jawab. Akhirnya, pendidikan gagal membentuk manusia seutuhnya. Yang lahir adalah generasi pintar, tapi miskin adab; cakap teknologi, tapi hampa spiritualitas.

Sebaliknya, Islam memandang pendidikan dengan sudut pandang yang berbeda dan jauh lebih mulia. Dalam Islam, pendidikan bukan semata alat untuk menyiapkan tenaga kerja, melainkan sarana membentuk manusia yang berkepribadian Islam: berpikir Islami dan bersikap Islami. Ukuran keberhasilan dalam pendidikan bukan sekadar nilai akademik atau keterampilan teknis, melainkan ketundukan total kepada hukum Allah. Islam mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar materi, melainkan menggapai ridha Allah.

Negara dalam sistem Islam (Khilafah) akan menjadikan pendidikan sebagai pilar utama peradaban. Kurikulum dirancang berdasarkan akidah Islam. Setiap ilmu yang diajarkan—baik itu ilmu syariah maupun sains dan teknologi—dibingkai dalam keimanan. Anak-anak dididik untuk memahami hakikat hidup, tanggung jawab sebagai hamba Allah, dan pentingnya amanah ilmu. Mereka diajarkan bahwa menipu adalah dosa, meski hasilnya gemilang di mata manusia. Mereka disadarkan bahwa kebahagiaan hakiki bukan ketika diterima di universitas ternama, tetapi ketika Allah ridha kepada amal mereka.

Dalam sistem pendidikan Islam, keterampilan tetap menjadi bagian penting. Namun, keterampilan itu dibangun di atas pondasi akidah. Maka lahirlah generasi yang tidak hanya ahli dalam bidang teknologi, tetapi juga paham bagaimana teknologi harus dimanfaatkan untuk maslahat umat. Generasi yang tidak menggunakan kecanggihan digital untuk menipu ujian, melainkan untuk menyebarkan dakwah, membela kebenaran, dan membangun peradaban Islam.

Bayangkan jika seluruh siswa dan mahasiswa di negeri ini tumbuh dengan kepribadian Islam, menganggap setiap perbuatan harus bernilai ibadah, dan menghindari kecurangan karena takut kepada Allah, bukan hanya karena takut dihukum. Maka ujian masuk perguruan tinggi akan kembali menjadi ajang adu kualitas, bukan ajang tipu-tipu. Kampus akan menjadi tempat menuntut ilmu dan membentuk karakter, bukan sekadar pabrik ijazah.

Sayangnya, sistem kapitalisme yang sekuler telah menjauhkan agama dari pendidikan. Agama dianggap hanya urusan pribadi, tidak boleh campur tangan dalam kurikulum atau pengambilan kebijakan pendidikan. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa arah, kehilangan visi hidup, dan akhirnya terseret arus materialisme.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.