UPDATE

OPINI
OPINI

Pendidikan Kapitalis, Generasi Minus!

Penulis: Hanny N**

DUA hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, sudah ada temuan kecurangan yang dilakukan para peserta. Pada hari pertama UTBK SNBT, Rabu (23/4/2025) tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan ada sembilan kasus kecurangan.

Di era digital seperti sekarang, kecanggihan teknologi seharusnya menjadi alat untuk membangun peradaban. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan praktik curang dalam pelaksanaan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer), ujian yang menjadi pintu masuk perguruan tinggi negeri. Sejumlah peserta dilaporkan memanfaatkan teknologi, termasuk alat komunikasi canggih, untuk mencurangi sistem. Alih-alih berusaha dengan jujur dan menunjukkan kompetensi, mereka justru memutar otak untuk mengakali aturan demi satu tujuan, lolos tes.

Fenomena ini mencerminkan lebih dari sekadar pelanggaran teknis. Ini adalah potret menyedihkan dari wajah generasi muda saat ini—generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi rusak secara moral. Mereka tahu cara menjebol sistem, tetapi tak punya nurani untuk menimbang perbuatannya. Jika yang melanggar adalah calon mahasiswa, maka patut kita pertanyakan seperti apa masa depan negeri ini jika generasi penerusnya menghalalkan segala cara sejak di bangku ujian?

Buruknya moralitas generasi muda bukan sekadar kebetulan. Ia adalah hasil dari sistem yang rusak. Sistem pendidikan yang saat ini diterapkan tidak mampu membentuk kepribadian luhur. Ia sibuk mengejar prestasi akademik dan pencapaian material, namun abai terhadap pembentukan karakter dan akhlak mulia. Inilah buah pahit dari sistem pendidikan berlandaskan kapitalisme—sebuah sistem yang menjadikan standar kehidupan adalah manfaat dan materi.

Sebuah survei yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa sebagian besar siswa SMA dan mahasiswa di Indonesia pernah melakukan kecurangan akademik, seperti menyontek atau memanipulasi tugas. Ini bukan data yang bisa diremehkan. Ketika integritas dipertaruhkan hanya untuk nilai, maka sesungguhnya kita sedang mencetak generasi yang siap berkompromi dengan kejahatan, bahkan sebelum mereka terjun ke dunia nyata.

Sistem kapitalisme telah berhasil membentuk cara pandang generasi muda bahwa keberhasilan adalah ketika seseorang mendapat nilai tinggi, lolos seleksi, diterima di kampus ternama, atau punya karier gemilang. Sayangnya, cara mencapainya tidak terlalu penting—asal tujuan tercapai. Prinsip ini persis seperti adagium Machiavelli, “the end justifies the means.” Maka tak heran jika kita melihat anak-anak muda yang berburu beasiswa dengan curang, lolos SNBT dengan bantuan joki, atau bahkan membeli skripsi dan tesis untuk gelar sarjana.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.