UPDATE

NASIONAL

Bukan Prabowo, Purbaya Akui Menghadap Jokowi saat Hadapi Resesi Februari 2025

“Itu expected (yang diharapkan) saya,” ujarnya. 

“Kalau ekonom seperti saya melihatnya itu, ini jebakan ekonomi. Tinggal tunggu jatohnya kalau gak cepet-cepet diperbaiki,” jelasnya.

Melihat neraca ekonomi yang terus anjlok, dirinya mencoba mengambil sikap.

Namun, karena masih menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dirinya tidak bisa berbuat banyak.

Apalagi diakuinya, ketika bulan Februari 2025, Purbaya mengaku belum dikenal dekat oleh Prabowo Subianto, Presiden RI terpilih.

Dengan perasaan gusar, dirinya kemudian menghadap Jokowi di Solo, Jawa Tengah.

“Waktu itu awal tahun tidak ada yang memberitahu, Saya mau kasih tau takut, Saya di LPS gak boleh ngomong begini-begini, Kalau saya sekarang di keuangan bolehlah. Karena kalau LPS tunggu di belakang Gak bisa masuk ke depan,” ujarnya. 

“Bulan Februari tahun ini, waktu itu Pak Jokowi masih sehat, saya ke tempatnya Pak Jokowi, ‘Pak Jokowi Ini ekonomi mau hancur bentar lagi, bantu gak Pak?’,” beber Purbaya menirukan kalimatnya kepada Jokowi.

“Saya juga takut, saya gak punya temen, Pak Jokowi udah pensiun kan, Pak Prabowo saya belum kenal waktu itu. ‘Pak Jokowi Bantu gak?’,” ujarnya menirukan lagi.

Jokowi yang mengetahui kabar ekonomi terpuruk, memerintahkan kepadanya untuk segera membantu.

Mendapatkan ‘restu’, Purbaya pun bergerilya menyebarkan informasi soal ekonomi bangsa yang di ujung kehancuran.

“Dia bilang, ‘Bantu!’. Lalu saya berani ke sana-sini, coba memberikan informasi bahwa ada masalah di perekonomian,” tambahnya.

“Tapi ini jatuhnya begini (Februari 2025), kita gak usah takut. Ini di bawah Kendali kita 100 persen. Jadi saya bilang, selalu saya bilang Kita gak usah takut global dan lain-lain, Kita cukup kuat, domestiknya gede, ergantung kebijakan kita sendiri. Jadi saya selalu bilang ‘Nasib kita di tangan kita sendiri’,” tutupnya.

Penempatan Dana di Perbankan

Diberitakan sebelumnya, pemerintah mengguyur dana untuk didepositokan ke perbankan Rp 200 triliun. 

Purbaya mengatakan, kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perbankan agar kredit dapat tumbuh dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“Jadi saya pastikan dana yang Rp 200 triliun masuk ke sistem perbankan hari ini dan mungkin banknya habis itu bingung berpikir nyalurin ke mana. Pasti pelan-pelan akan dikredit sehingga ekonominya bisa bergerak,” ujar Purbaya saat konferensi pers di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat pekan lalu.

Purbaya menjelaskan, dana pemerintah yang disalurkan ke perbankan ini bukan berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA). 

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3 4

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.