UPDATE

OPINI
OPINI

Habis Luhut dan Dedi Mulyadi, Terbitlah Hasan Nasbi

Oleh: Erizal**

HASAN Nasbi ikut nimbrung mengomentari, mengkritik, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Pansos istilah anak zaman sekarang. Sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan dan yang paling heboh, Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi tak hanya sekadar mengomentari, tapi membantah. Membantah bahwa ada dana Pemda Jawa Barat yang diendapkan di Bank.

Sebetulnya, tak hanya Pemda Jawa Barat, tapi banyak Pemda lainnya. Tapi hanya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berani tampil membantah.

Istilah mengendapkan dana Pemda itu citra buruk bagi seorang Dedi Mulyadi yang sedang naik daun juga dan terkenal bersih.

Tapi Purbaya membalas lagi bantahan Dedi Mulyadi itu dengan keras. “Jangan nyuruh-nyuruh saya, saya bukan pegawai Pemda,” tegas Purbaya. Begitulah kira-kira.

Luhut Binsar Panjaitan sempat juga dianggap berbalas pantun dengan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya enggan membayar utang kereta cepat Whoosh pakai dana APBN.

Keengganan Purbaya itu dianggap pemerintah sedang lepas tangan oleh Luhut, padahal bukan. Tak mau bayar pakai APBN, bukan berarti lepas tangan. Melainkan diserahkan ke Danantara.

Danantara sudah menerima keuntungan dari BUMN. Luhut juga tak bermaksud utang kereta cepat itu harus dibayar pakai APBN, tapi seolah-olah dibuat begitu.

Purbaya dianggap anak buah yang sedang melawan bosnya, padahal bukan. Proyek Whoosh itu sensitif bagi Luhut, yang belakangan justru dikatakannya sudah busuk saat diterimanya.

Dedi Mulyadi dan Luhut Binsar Panjaitan hanya dua nama pejabat saja yang mencuat kepermukaan imbas dari apa yang dilakukan Purbaya Yudhi Sadewa. Pejabat lainnya, apalagi yang berada di bawah Kementerian Keuangan, mungkin banyak lagi.

Sidak-sidak yang dilakukannya membuat para pejabat ketar-ketir. Orang sampai lupa bahwa dia bukanlah penegak hukum, tapi Menteri Keuangan. Menteri Keuangan biasanya tak seperti itu. Banyak diam, duduk di kantor mewah.

Anggaran Makan Bergizi Gratis alias MBG, termasuk kementerian lainnya, kalau tak terserap, akan diambil dan alihkan ke yang lain. Prinsip Purbaya sederhana, uang tak boleh banyak parkir dan harus beredar di tengah masyarakat.

Sempat dirumorkan sedang dikucilkan pejabat lain, padahal bukan. Tapi mungkin iya, terutama yang terkena imbas dari apa yang dilakukannya.

Bahkan, pendukung Joko Widodo alias Jokowi sewot juga dengan apa yang dikatakan Purbaya. Bahwa era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih baik daripada era Jokowi.

Jokowi kerja keras ekonomi tumbuh cuma 5 persen, sementara SBY tidur saja ekonomi tumbuh 6 persen. Padahal sempat pula diklaim sebagai orangnya Jokowi.

image_print
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.