Sementara anak-anak yang namanya selalu disebut dalam perdebatan itu mungkin sedang sibuk bermain bola, layangan, atau rebahan menikmati libur sekolah.
Lalu ada satu fenomena lain yang diam-diam diperhatikan publik. Pasca ditangkapknya gerombolan Dadan Hindayana cs oleh Kejagung, anehnya kabar keracunan massal di sekolah mendadak sepi, bahkan nihil.
Dulu berita keracunan muncul bergelombang seperti serial mingguan. Kini suasananya mendadak sunyi. Seakan-akan bakteri nasional ikut terkena kebijakan efisiensi anggaran. Tentu saja ini hanyalah pengamatan publik yang berkembang di ruang percakapan masyarakat. Namun tetap saja membuat banyak orang mengangkat alis.
Pada akhirnya, drama MBG telah melahirkan pelajaran berharga. Dalam setiap program negara, sering kali yang paling ribut bukan pihak yang namanya selalu disebut. Ketika MBG berhenti sementara, tidak terdengar gelombang demonstrasi anak SD mengepung istana sambil membawa spanduk “Kami Lapar”.
Yang justru muncul adalah perdebatan kontrak, juknis, regulasi, dan potensi gugatan hukum. Maka publik pun kembali berbisik pelan, “Jadi benar dong, yang benar-benar kelaparan selama ini bukan anak-anak.” Dari kejauhan, suara kompor yang tak lagi menyala terdengar seperti sedang mengonfirmasi dugaan tersebut.
(Ketua Satupena Kalbar)


















































































































Komentar Terbaru