BANDA ACEH – Sebuah peristiwa tragis mengguncang Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Seorang remaja laki-laki berinisial A (14) nekat membakar mantan pacarnya, Chelsy Katrin Chandra (15), hingga meregang nyawa. Kasus pembunuhan sadis ini terungkap setelah jasad korban ditemukan di kawasan Jalan Waroki, dekat Pantai Naikere, pada Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 20.00 WIT.
Yang membuat publik semakin terpukul, motif di balik aksi keji ini terbilang sepele namun berujung fatal. Pelaku diduga panik dan ketakutan setelah korban mengancam akan membongkar rahasia hubungan intim mereka kepada orang tua pelaku.
Kronologi Hubungan yang Berujung Petaka
Wakapolres Nabire, Kompol Piter Kendek, dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu (2/8/2026), membeberkan secara rinci kronologi peristiwa memilukan ini.
Menurut Piter, pelaku dan korban diketahui sempat menjalin hubungan asmara pada Mei 2026. Dalam masa pacaran tersebut, keduanya sempat melakukan hubungan layaknya suami istri di salah satu penginapan yang berada di wilayah Nabire.
Namun, hubungan itu tidak berlangsung lama. Memasuki Juni 2026, pelaku memutuskan hubungan dengan korban. Alasan putus cinta tersebut cukup klasik, yakni pelaku diketahui dekat dengan perempuan lain di lingkungan sekolahnya.
Ancaman Korban Jadi Pemicu Niat Jahat
Keputusan sepihak dari pelaku ternyata tidak diterima begitu saja oleh CK. Korban yang merasa sakit hati dan dikhianati kemudian melontarkan ancaman serius kepada mantan kekasihnya itu.
“Korban mengancam pelaku bahwa akan menyampaikan ke orang tua pelaku di mana pelaku sudah pernah melakukan hubungan badan dengan korban,” ujar Kompol Piter Kendek menjelaskan motif awal di balik aksi pembunuhan tersebut.
Ancaman itu rupanya memicu ketakutan luar biasa dalam diri pelaku yang masih berusia 14 tahun. A merasa sangat cemas dan khawatir apabila perbuatannya terbongkar oleh kedua orang tuanya. Dari situlah, benih-benih niat jahat mulai tumbuh di benak sang remaja.
Rencana Pembunuhan yang Tersusun Rapi
Rasa takut yang membuncah mendorong pelaku untuk menyusun rencana keji. Alih-alih mencari solusi damai atau meminta bantuan orang dewasa, A justru memilih jalan paling gelap: menghabisi nyawa mantan pacarnya.
“Pelaku sudah merasa ketakutan sehingga dari situ timbul niat pelaku untuk membunuh korban,” tegas Piter.
Pelaku kemudian kembali menghubungi korban melalui pesan singkat di aplikasi WhatsApp. Dalam percakapan tersebut, korban meminta agar mereka bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Permintaan itu disetujui pelaku, namun dengan niat yang sudah jauh berbeda dari sekadar pertemuan biasa.



















































































































Komentar Terbaru